Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kementan Khawatir Tak Dilibatkan dalam Revisi PP 109/2012 soal Produk Tembakau

Agus Wahyudi mengaku semakin khawatir jika pembahasan revisi PP 109/2012 terus dilakukan tanpa melibatkan instansinya.

Kementan Khawatir Tak Dilibatkan dalam Revisi PP 109/2012 soal Produk Tembakau
TRIBUNNEWS.COM/REYNAS
Diskusi publik soal rencana revisi PP 109 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM - Kampanye anti rokok yang masif telah menekan permintaan produksi rokok turun menjadi 6 miliar batang per tahun.

Artinya ada 6.000 ton tembakau kering tidak terserap Industri Hasil Tembakau (IHT) jika 1 batang rokok isinya 1 gram tembakau.

Hal ini membuat Kementerian Pertanian terkena dampak gagal melaksanakan program peningkatan tembakau nasional.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian (Kementan), Agus Wahyudi mengaku semakin khawatir jika pembahasan revisi PP 109/2012 terus dilakukan tanpa melibatkan instansinya.

Perlu diketahui, PP 109/2012 mengenai Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan

Agus mencatat, sepanjang 2018 lalu jumlah produksi tembakau nasional mencapai 182.000 ton. Sementara kebutuhan tembakau nasional dari IHT mencapai 320.000 ton.

Baca: Sempat Terlewat, Raperda Kawasan Tanpa Rokok Diprioritaskan DPRD DKI Rampung 2020

“Jadi ada gap cukup besar hampir 140.000 ton yang ditutup dengan tembakau impor. Ini tentunya menjadi tambahan defisit bagi neraca perdagangan kita. Karena itu Kementan menjalankan program substitusi impor tembakau dengan mendorong produksi dalam negeri melalui kemitraan, sehingga targetnya produksi nasional bisa bertambah 100.000 ton."

"Jadi sebelum merevisi suatu kebijakan, harus diperhatikan juga multiplier effect-nya kepada seluruh stakeholder terkait,” kata Agus di Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno mengatakan tekanan yang dialami pelaku IHT secara terus-menerus selama lima tahun terakhir juga mempengaruhi petani tembakau maupun cengkeh Indonesia.

“Sejak tahun 2015 hingga 2018 saja volume produksi terus mengalami penurunan. Penurunan ini tentunya berdampak langsung terhadap daya serap pabrikan atas hasil tani tembakau dari petani,” ujar Soeseno.

“Lalu kalau 1 hektare lahan petani menghasilkan 1 ton tembakau kering maka ada sekitar 6.000 hektare lahan tembakau yang hilang tidak terserap. Artinya tidak sedikit petani tembakau yang akan kehilangan mata pencahariannya. Sementara sampai dengan saat ini harga tembakau lebih tinggi dibandingkan harga komoditas lain di musim kemarau,” sambung dia.

Sebagai catatan, saat ini Indonesia merupakan produsen cengkeh terbesar di dunia.

Di dalam negeri cengkeh merupakan bahan pokok selain tembakau dalam memproduksi rokok kretek.

Ikuti kami di
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Fajar Anjungroso
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas