Analis: Dampak Virus Corona Terhadap Pasar Keuangan Lebih Besar Ketimbang SARS
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengumumkan epidemi virus corona sebagai darurat global.
Editor:
Choirul Arifin
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berita utama pekan ini yang menjadi perhatian luas para pelaku pasar keuangan dunia dan juga di Indonesia adalah seputar virus corona yang penyebarannya makin mengkhawatirkan dan membuat ratusan orang tewas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengumumkan epidemi virus corona sebagai darurat global.
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, wabah virus corona sudah mengakibatkan 200 orang lebih meninggal dunia dan menginfeksi hampir 10.000 orang.
"Kecepatan penyebaran virus menjadi perhatian. Pasar dunia sempat pulih di tengah pekan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan darurat kesehatan global akibat virus corona," ujarnya di Jakarta, Minggu (2/2/2020).
Baca: Diliputi Ketakutan, Jelang Kedatangan Ratusan WNI, Warga Natuna Ngumpet Masuk Rumah
Hans menjelaskan, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke China dan menyampaikan China memiliki situasi yang terkendali.
Baca: Tiba di Bandara Hang Nadim Batam, Pesawat dan Para WNI dari Wuhan Disemprot Vaksin
"Hal ini menimbukan optimisme bahwa perekonomian China dan global tidak akan terlalu terganggu akibat virus corona," katanya.
Sementara, di belahan dunia lain langkah penanggulangan sudah dilakukan di Amerika Serikat (AS).
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah memerintahkan karantina semua orang yang dipulangkan dari China ke sebuah pangkalan udara di California.
Kemudian, pelemahan bursa Wall Street sedikit tertahan juga karena Direktur CDC Robert Redfield menyatakan dampak risiko virus corona terhadap publik AS tergolong rendah.
"Kami perkirakaan dampak virus corona akan lebih besar dibanding wabah SARS sebelumnya yang menewaskan 800 orang di tahun 2002 sampai 2003," pungkas Hans.
Waktu itu penanggulangan wabah SARS membutuhkan dana kurang lebih USD 33 miliar.
Situasi saat ini berbeda karena China punya perekonomian yang sangat besar, maka kemungkinan butuh dana yang lebih besar dan akan menganggu ekonomi dunia.