Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Dampak Gagal Bayar Jiwasraya, Nasabah Diprediksi Jauhi Asuransi 'Kelas Bawah'

"Saya lihat ada potensi berpindah, artinya si konsumen akan lebih memilih produk yang top tier (kelas atas)," katanya

Dampak Gagal Bayar Jiwasraya, Nasabah Diprediksi Jauhi Asuransi 'Kelas Bawah'
Kontan/Carolus Agus Waluyo
Warga melintas di depan kantor Pusat Asuransi Jiwasraya Jakarta, Selasa (15/1). Untuk mengatasi masalah lukuiditas di Jiasraya pemerintah akan mengundang BUMN dan investor asing masuk menjadi pemegang saham di Jiwasraya. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal memprediksi nasabah akan menjauhi produk asuransi 'kelas bawah' dampak dari kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya.

Fithra menjelaskan, produk asuransi 'kelas atas' akan menjadi pilihan karena dinilai nasabah lebih terpercaya dan jauh dari potensi gagal bayar.

Baca: Pengamat: Bukan Pemblokiran Rekening, Perusahaan Asuransi Gagal Bayar karena Saham Gorengan

"Saya lihat ada potensi berpindah, artinya si konsumen akan lebih memilih produk yang top tier (kelas atas). Jadi, kalau bicara produk asuransi, mereka akan mengalir ke yang lebih terpercaya," ujarnya di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Sedangkan, nasib asuransi 'kelas bawah' bahkan bisa lebih parah lagi yakni berpotensi adanya penutupan dari produk akibat tidak laku.

"Masalahnya yang bawah. Inikan banyak tuh life insurance pelakunya, begitu juga dengan general insurance," kata Fithra.

Adapun potensi perpindahan memang tidak terlalu besar yakni kemungkinan sekira 40 persen nasabah mengalihkan uangnya ke produk asuransi 'kelas atas'.

Peralihan tersebut pun tidak memandang asal nasabah, baik dari perusahaan swasta maupun pelat merah yang berkaca dari kasus Jiwasraya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Sekalipun pelat merah karena kan kemarin yang bermasalah pelat merah," kata Fithra.

Disisi lain, pembentukan lembaga penjamin asuransi dinilai mendesak karena sekarang ini memang perlindungan terhadap asuransi tidak terlalu besar.

Baca: Ada Risiko Sistemik di Industri Keuangan Non Bank, Ini Kata Pengamat Asuransi

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas