Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Imbas Covid-19, Perbankan Bakal Ekstra Hati-hati Ekspansi Kredit ke Debitur UMKM

sikap perbankan yang prudent adalah hal yang wajar karena menurunnya daya beli masyarakat akibat pelemahan perekonomian dunia.

Imbas Covid-19, Perbankan Bakal Ekstra Hati-hati Ekspansi Kredit ke Debitur UMKM
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Laras pekerja warung kopi kekinian sedang membuat kopi pesanan pelanggan ditempatnya bekerja di daerah Cikini, Jakarta, Jumat (17/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19 pekerja dan pengusaha usaha mikro kecil menengah (UMKM) harus bertahan dengan terus membuka usahanya meskipun penghasilan yang didapat menurun lebih dari 50 persen. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan dua skema pemberian stimulus bagi UMKM yang terdampak Covid-19, yakni melalui mekanisme moneter dan bantuan sosial (bansos). TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto meyakini perbankan akan lebih berhati-hati melakukan menyalurkan kredit ke sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tengah wabah Covid-19.

Menurutnya, perbankan yang masih memiliki tingkat likuiditas cukup memadai sekalipun tidak akan berani mengambil risiko.

"Tren ekspansi kredit ini masih dilakukan meski dampak dari Covid-19 ini sangat luar biasa. Tapi dari sisi assessment dan dari sisi due diligence untuk debitur kalangan UMKM akan lebih ekstra hati-hati," kata Ryan dalam seminar virtual di Jakarta, Selasa (19/5/2020).

Baca: BI: Transaksi Uang Elektronik Melesat 67,9 Persen di Era Pandemi Covid-19

Baca: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 4,5 Persen

Menurutnya, sikap perbankan yang prudent adalah hal yang wajar karena menurunnya daya beli masyarakat akibat pelemahan perekonomian dunia.

"Kita sedang berada di titik gelombang permukaan dampak dari Covid-19," ucapnya.

Ia menambahkan tidak semua bisnis UMKM mengalami tingkat high risk, sebab beberapa sektor seperti kesehatan dan bahan pokok pangan justru baik.

"Terutama makanan vegetarian itu sekarang justru banyak dikonsumsi dan semakin booming karena banyak orang yang menyadari kesehatan," tutur Ryan.

Sementara itu Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki tidak menampik kondisi sektor UMKM yang terdampak dari pandemi virus corona.

Dalam data yang dipaparkan setidaknya 43 persen UMKM berhenti beroperasi, sebagian lagi banting stir memproduksi alat pelindung diri dan masker.

"Kemarin hasil survei Unpad juga datanya sama 43 persen UMKM di Jawa Barat akan berhenti. Kita asumsikan 40 persen yang akan berhenti," kata Teten di kesempatan yang sama.

Teten menerangkan masyarakat Indonesia 99 persen adalah pelaku UMKM, namun sayangnya tidak ada data akurat untuk memastikan keberadaan mereka.

"Kalau mau diselesaikan masalah ini kita harus membangun basis datanya by name by address. Restrukturisasi kredit saja tidak cukup," imbuhnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas