Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Nyaris Seluruh Unit UMKM Alami Penurunan Penjualan di Tengah Pandemi

Dalam hasil survei yang melibatkan total 6.000 UMKM itu, penurunan penjualan dirasakan 26,6 persen unit usaha.

Nyaris Seluruh Unit UMKM Alami Penurunan Penjualan di Tengah Pandemi
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Pekerja menggoreng tempe goreng khas Bandung di toko oleh-oleh di Jalan Soekarno Hatta, seberang Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Jumat (29/5/2020). Pandemi Covid-19 yang berujung adanya larangan mudik Lebaran, berdampak pada pelaku UMKM yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, seperti pedagang oleh-oleh khas Bandung ini yang mengalami penurunan omzet hingga 80 persen dibanding Lebaran sebelumnya. Hal tersebut karena Lebaran di tahun ini minim pembeli karena pemudiknya nyaris tidak ada. Musim Lebaran sebelumnya pedagang oleh-oleh di kawasan ini biasa menyetok tempe goreng untuk H-7 hingga H+7 sebanyak lebih dari satu ton, sementara di saat pandemi Covid-19 ditambah adanya larangan mudik produksi tempe goreng untuk penjualan selama Lebaran tidak sampai satu kuintal. (TRIBUN JABAR/KURNIAWAN) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lesunya ekonomi akibat dampak pandemi virus corona (Covid-19) turut dirasakan pula oleh sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tanah air.

Seperti yang disampaikan Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Bappenas Ahmad Dading Gunadi dalam diskusi online yang digelar Rabu (3/6/2020).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI), kata dia, nyaris seluruh unit UMKM mengalami penurunan jumlah penjualan produknya di masa pandemi ini.

"ABDSI melakukan survei terhadap 6.000 UMKM di Indonesia, jadi kita mau lihat tadi hampir semua penjualannya menurun. Malah tidak ada yang bisa menjualkan produknya," ujar Ahmad.

Dalam hasil survei yang melibatkan total 6.000 UMKM itu, penurunan penjualan dirasakan 26,6 persen unit usaha.

Sementara unit UMKM yang tidak bisa menjual produknya di masa pandemi ini mencapai angka 36,7 persen.

Kendati demikian, Ahmad menyebut ada sekitar 3,6 persen unit UMKM yang justru memiliki penjualan lebih tinggi.

Sehingga ia menegaskan bahwa meskipun sentimen konsumen saat ini cenderung ke arah negatif, namun ia optimis bahwa masih ada peluang terkait geliat pasar.

"Tapi ada yang sedikit juga, sekitar 3,6 persen ini lebih tinggi penjualannya. Jadi ini juga masih ada peluang, meskipun indeks konsumen menurun tapi masih di atas 1 persen. Sehingga ini ada peluang untuk tetap melihat pasar yang sangat segmented," kata Ahmad.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas