Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Menteri Teten Ajak UMKM Beralih ke Pembayaran QRIS

Smesco Indonesia sudah mulai mengimplementasikan QRIS sebagai alat transaksi yang mudah.

Menteri Teten Ajak UMKM Beralih ke Pembayaran QRIS
TRIBUNNEWS.COM/HARI
GoPay, dan Nahdlatul Ulama dalam peluncuran implementasi kode Qris dalam donasi menggunakan uang elektronik 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) beralih ke pembayaran digital QR Code Indonesian Standard (QRIS).

Menurutnya, penggunaan QRIS sesuai standarisasi Bank Indonesia juga dapat meningkatkan daya saing UMKM di tengah penerapan masa normal.

"Saya kira kita perlu dukungan dari Bank Indonesia agar digital payment QRIS. Memang kita sudah melihat ada perubahan tren pasar tradisional sekarang sudah menggunakan aplikasi digital terbatas," kata Teten dalam webinar di Jakarta, Rabu (24/6/2020).

Teten memandang langkah digitalisasi UMKM yang sekarang baru 13 persen atau sekitar 8 juta UMKM terhubung dengan pasar online perlu diperluas agar membuka akses pasar baru.

Dia menjelaskan, Smesco Indonesia sudah mulai mengimplementasikan QRIS sebagai alat transaksi yang mudah.

Baca: BI Klaim 3,64 Juta Merchant Sudah Gunakan QRIS

"Kalau di Smesco kita sudah pakai QRIS, jadi kami sudah menerapkannya," kata Teten.

Selain itu, dia menjelaskan, apabila penggunaan digital payment digenjot akan memberi kemudahan bagi konsumen dan produsen di hulu, begitupun bagi para reseller di online untuk saling berkontribusi.

Baca: Wajib Bayar NonTunai Pakai QR Code di Pekan QRIS 2020

Teten menambahkan bahwa tidak hanya persoalan digitalisasi tapi masih banyak UMKM yang terkendala dalam hal pemasaran.

"Pengalaman kami dalam pendampingan konsumen bersama e-commerce memang tidak mudah. Jadi tidak sekadar terhubung market online lalu tumbuh, kenyataannya banyak yang gagal, hanya 4-10 persen keberhasilannya," jelasnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas