Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

KAI Minta Penambahan Batas Kapasitas Angkut KRL Commuter Line

Saat ini KRL Commuter Line mengoperasikan 947 perjalanan KRL atau mencapai 95 persen dari 991 perjalanan yang reguler dijalankan pada masa normal.

KAI Minta Penambahan Batas Kapasitas Angkut KRL Commuter Line
Tribunnews/JEPRIMA
Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (16/4/2020). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hari Darmawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (KAI) meminta pelonggaran aturan tentang kapasitas angkut maksimum Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line menjadi 60 persen.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan, dengan adanya penambahan kapasitas angkut KRL diharapkan daapt mengurangi kepadatan antrean di stasiun.

Dia menjelaskan, sejak ada ketentuan kapasitas angkut penumpang KRL maksimal menjadi 45 persen atau 74 penumpang per kereta pada 8 Juni 2020, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) megnantisipasi kepadatan di stasiun dengan berabagai protokol kesehatan ketat.

"Apabila kapasitas angkut menjadi 60 persen atau 100 penumpang per kereta, maka antrean di stasiun KRL dapat dikurangi," ucap Didiek dalam keterangannya, Selasa (7/7/2020).

Didiek menjelaskan, saat ini KRL Commuter Line mengoperasikan 947 perjalanan KRL atau mencapai 95 persen dari 991 perjalanan yang reguler dijalankan pada masa normal.

Baca: Pendapatan Anjlok, Manajemen KRL Commuter Line Minta Penyesuaian Tarif

"Kami juga telah melakukan pengaturan pada pengguna KRL, agar mengantre dengan tertib dan disiplin sebelum masuk ke peron stasiun," ujar Didiek.

Baca: Mulai 13 Juli, Stasiun Bogor dan Cilebut Hanya Layani Perjalanan KRL Menggunakan KMT

Terakit adanya antrean penumpang di stasiun KRL, Didiek menyebutkan, dapat mengurangi kenyamanan dan menambah waktu perjalanan untuk menuju tempat kerja.

"Karena pengguna KRL harus mematuhi kebijakan jaga jarak, baik di stasiun dan pada rangkaian kereta yang menjadi protokol wajib," kata Didiek.

Didiek mengungkapkan, saat ini pihaknya telah mengatur headway kereta menjadi 5 menit. Tetapi itu belum dapat mengurangi antrean, karena kapasitas yang disediakan masih dibatasi.

Penulis: Hari Darmawan
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas