Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Presiden: Kemungkinan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal Kedua Minus 4,3 Persen

Ia mengatakan bahwa berdasarkan hitung-hitungan terbaru, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ke II akan minus 4,3 persen.

Presiden: Kemungkinan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal Kedua Minus 4,3 Persen
Twitter/jokowi
Jokowi 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa berdasarkan hitung-hitungan terbaru, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ke II akan minus 4,3 persen. 

Hal itu disampaikan presiden dalam rapat bersama kepala daerah membahas percepatan penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu, (15/7/2020)

"Dan beruntung sekali, kita sekarang ini, kondisi ekonomi kita, meskipun di kuartal kedua pertumbuhannya kemungkinan, ini dari hitungan pagi tadi yang saya terima, kuartal kedua mungkin kita bisa minus ke 4,3 (persen). Di kuartal pertama kita masih positif 2,97 (persen)," kata Presiden.

Angka tersebut menurut Presiden akan berbeda apabila Indonesia menerapkan karantina atau lockdown dalam menghadapi Pandemi Covid-19. 

"Saya enggak bisa bayangin  kalau kita dulu lockdown gitu mungkin bisa minus 17 (persen)," katanya.

Presiden mengatakan bahwa pergerakan ekonomi dunia saat ini sangat dinamis. Tiga bulan lalu ia menelepon Managing Director IMF Kristalina Georgieva yang menyampaikan baha pertumbuhan ekonomi dunia akan terkontraksi menjadi minus 2,5 persen. Setelah itu Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan minus 5 persen. 

"Tapi terakhir, OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), angkanya sudah berubah total lagi, sangat dinamis, harian ini, ketidakpastian ini harian, bukan mingguan, harian. Terakhir sudah berada pada angka minus 6 sampai minus 7,6 (persen). Betapa beratnya situasi ini," katanya.

Presiden mengatakan bahwa hampir semua negara pertumbuhan ekonominya minus. Misalnya Perancis minus 17,2 persen, Inggris minus 15,4 persen, Jerman minus 11,2 persen dan Amerika Serikat minus 9,7 persen.

"Minus semuanya, negara-negara minus, enggak ada yang plus semua. Padahal di awal, kita, IMF itu memperkirakan masih plus, (negara) yang plus itu China, India, Indonesia," katanya.

Oleh karena itu Presiden berpesan kepada kepala daerah untuk bisa mengatur penanganan kesehatan Covid-19 dan pemulihan ekonomi secara tepat dan pararel.

"Agar rem dan gasnya ini diatur betul. Jangan sampai tidak terkendali. Enggak bisa kita ngegas yang hanya ekonominya saja enggak bisa, ya Covid-19 -nya juga nanti malah naik ke mana-mana, enggak bisa. Dua-duanya ini harus betul-betul di gas dan remnya diatur betul, semuanya terkendali semuanya," pungkasnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Malvyandie Haryadi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas