Tribun Bisnis

Menkeu Sri Mulyani dalam Pertemuan ADB Sebut Kontraksi Ekonomi Terdalam Sejak 1998

Covid-19 sudah mengontraksi ekonomi pada kuartal kedua sebesar 5,3 persen, ini merupakan kontraksi pertama dan terdalam sejak krisis 1998

Menkeu Sri Mulyani dalam Pertemuan ADB Sebut Kontraksi Ekonomi Terdalam Sejak 1998
TRIBUNNEWS/REYNAS ABDILA
Menteri Keuangan Sri Mulyani. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Covid-19 saat ini mempengaruhi situasi sosial dan ekonomi semua negara di dunia.

Karena itu, butuh respon kebijakan yang cepat sekaligus tepat untuk menanganinya, sekaligus mencegah agar dampak dari pandemi tidak meluas.

Hal tersebut dia sampaikan saat menjadi satu diantara panelis dalam acara “Governors’ Seminar: Developing Asia Beyond the Pandemic”, rangkaian dari Pertemuan Tahunan Asian Development Bank (ADB) yang ke-53, secara virtual pada Jumat malam.

“Covid-19 sudah mengontraksi ekonomi pada kuartal kedua sebesar 5,3 persen, ini merupakan kontraksi pertama dan terdalam sejak krisis 1998 saat terjadi krisis finansial. Anda tidak dapat memulihkan ekonomi kecuali Anda menangani masalah Covid," ujar Sri Mulyani.

Jadi, kata dia, pemerintah merancang perubahan kebijakan pada tahun 2020 pada waktu yang sangat sulit ini dengan menangani melalui perubahan pada dukungan fiskal secara extraordinary.

Sri Mulyani menjelaskan, bahwa untuk pertama kalinya sejak 1998, Indonesia melakukan perubahan pada kebijakan defisit pada APBN menjadi lebih besar dari 3 persen.

Baca: Pemerintah Anggarkan Rp 695,2 Triliun untuk Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi

Menurutnya, terpenting dari perubahan defisit anggaran ini adalah untuk membiayai program kesehatan agar pemerintah dapat melakukan pelacakan, pengujian, dan perawatan dalam upaya penanganan Covid-19.

"Selain itu, untuk menyediakan jaring pengaman sosial bagi masyarakat," kata Sri Mulyani.

Dia melanjutkan, situasi ekonomi yang saat ini sedang dihadapi sangat berbeda dengan situasi krisis finansial di Asia atau global beberapa waktu lalu yang hanya berpangkal dari masalah finansial.

Situasi yang ada saat ini dinilai lebih kompleks, dimana ada penyebaran virus yang langsung menyerang ke masyarakat, dan berakibat pada terganggunya aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

"Itu alasannya kenapa pemerintah Indonesia memperluas jaring pengaman sosial. Kami memperluas program jaring pengaman sosial untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta juga untuk menstimulus sisi permintaan, itu bisa mengurangi kontraksi ekonomi,” pungkasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas