Berdirinya Bank Syariah Indonesia Jadi Catatan Sejarah Merger Bank Tercepat di Dunia
Dalam merger ini, Bank Mandiri Syariah menjadi bank survival karena memiliki jaringan kantor cabang bank terbanyak
Penulis:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdirinya PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang resmi beroperasi melayani nasabah mulai 1 Februari 2021 kemarin akan menjadi catatan sejarah merger bank tercepat di dunia.
"Ini merger tercepat di dunia, karena hanya dalam 11 bulan dengan timeline yang ketat," kata Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dalam diskusi virtual dengan pemimpin redaksi media massa yang diikuti Tribunnews di Jakarta, Selasa (2/2/2021).
Hery Gunardi yang juga menjadi Ketua Project Management Office PT Bank Syariah Indonesia Tbk menjelaskan, pada sekitar Oktober nanti core banking BSI akan terbentuk.
Dalam merger ini, Bank Mandiri Syariah menjadi bank survival karena memiliki jaringan kantor cabang bank terbanyak dibandingkan dua bank syariah peserta merger lainnya, yakni Bank BNI Syariah dan Bank BRISyariah.
Dua fokus utama setelah resmi merger pada 1 Februari 2021 menurut Hery adalah melakukan migrasi rekening nasabah dan stabilisasi sinergi dan integrasi.
Baca juga: Dirut: Bisnis Bank Syariah Indonesia Akan Dijalankan dengan Prinsip Maqashid Al-Syariah
Dia mengatakan, pusat kendali operasional BSI saat ini terserak di 9 lokasi yang tersebar di Jakarta seperti di Thamrin, Tanah Abang, hingga kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
"Nanti akan dikumpulin, dikandangin maksimal jadi 3 tempat," ujar Hery Gunardi.
Baca juga: Bank Syariah Indonesia Akan Fokus Garap 3 Sektor Bisnis Strategis Ini
BSI merupakan bank syariah hasil penggabungan (merger) tiga bank BUMN meliputi Bank BRISyariah, Bank BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri.
Total aset sebesar Rp 240 triliun per Desember 2020 dan menempatkan bank ini di posisi ketujuh bank beraset terbesar di Indonesia dengan didukung sekitar 1.200 kantor cabang.
Total pembiayaan yang disalurkan selama ini (sebelum merger) sebesar Rp 157 triliun dan total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 210 triliun serta total modal inti sebesar Rp 22,6 triliun.