Tribun Bisnis

Potret Pasar Modal di Awal Tahun, Saham-saham Nikel Rontok, Investor Ritel Terjebak Euforia

Hadiyansyah mengatakan, lonjakan saham-saham nikel dipicu oleh masifnya pemberitaan media tentang produksi baterai di Indonesia. 

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Potret Pasar Modal di Awal Tahun, Saham-saham Nikel Rontok, Investor Ritel Terjebak Euforia
Tribunnews/Irwan Rismawan
Layar berukuran besar menyajikan informasi pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (10/9/2020). Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ambruknya saham-saham di sektor komoditas nikel menjadia warna awal pasar modal di awal 2021 hingga diperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) paling mentok ke 6.500 dalam jangka pendek dan menengah. 

Berdasarkan data RTI, tiga saham nikel yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (VALE) masing ambruk minus 25,09 persen, 27,63 persen, dan 30,63 persen hanya dalam sebulan. 

Analis Teknikal Mandiri Sekuritas Hadiyansyah mengatakan, lonjakan saham-saham nikel dipicu oleh masifnya pemberitaan media tentang produksi baterai di Indonesia. 

"Ada berita baterai itu Antam loncat pagi-pagi setelah ada berita keluar sore hari sebelumnya. Setelah pasar tutup, besoknya loncat," ujarnya saat webinar, Kamis (25/3/2021). 

Baca juga: Investor Pemula Perlu Kenali Dulu Makna Berinvestasi di Saham Agar Tak Terjebak Jadi Spekulan

Menurut dia, investor ritel di pertengahan kedua tahun lalu cukup terpengaruh dengan berita optimistis tersebut, sehingga langsung membeli saham-saham nikel. 

Baca juga: Tekanan ke IHSG Mungkin Belum Selesai, Bisa Cermati Saham-saham Ini

Sayangnya, nasib mereka berhenti sampai awal tahun ini karena market maker atau bandar langsung melepas sahamnya karena sudah mengoleksi di harga bawah. 

"Investor ritel nekat hajar kanan, tidak banyak analisa, lalu beli, akhirnya sempat naik sampai 3.000. ini dimanfaatkan market maker untuk mark-up sahamnya, akhirnya ketika harga nikel turun ya turun lagi akhirnya," kata Hadiyansyah. 

Baca juga: Krisis Pandemi Dinilai Jadi Kesempatan, IHSG Bisa Pulih Lagi dalam Jangka Panjang

Selain itu, dia memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek dan menengah hanya bisa sampai ke level 6.500 saja meski jumlah investor bertambah. 

"Secara keseluruhan di 5.500 sampai 6.500. Fenomena sekarang ritel menyerbu pasar saham karena ada Covid-19, mereka diam di rumah, cara mudahnya buka rekening, trading di rumah," pungkasnya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas