Tribun Bisnis

Pemanfaatan Lahan Gambut, Kontribusi Perempuan Terus Didorong

Tuti Sarinum sehari-hari dikenal sebagai bidan kampung di Desa Temiang, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Editor: Malvyandie Haryadi
Pemanfaatan Lahan Gambut, Kontribusi Perempuan Terus Didorong
Istimewa
Ilustrasi jahe merah. 

TRIBUNNEWS.COM, BENGKALIS - Tuti Sarinum sehari-hari dikenal sebagai bidan kampung di Desa Temiang, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Tuti hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar. Tetapi pengetahuannya mengenai obat-obatan tradisional jangan ditanya. Untuk mendukung pekerjaannya sebagai bidan kampung, Tuti menanam banyak tanaman obat di pekarangan rumahnya.

Suatu ketika, fasilitator Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG), Rafi Merbamas, melihat beranekanya tanaman obat di rumah Tuti dan terinspirasi untuk menjadikan kebun tanaman obat keluarga (Toga) itu lebih besar lagi. Setelah berdiskusi dengan Tuti, akhirnya dipilih budidaya jahe merah. Kebetulan saat itu di awal pandemi Covid-19, jahe merah sangat banyak dicari.

Baca juga: Dorong Ketahanan Pangan, Warga Pedesaan Gambut Budidayakan Sayuran

Singkat cerita, untuk mengembangkan budidaya jahe merah ini dibentuklah Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya (KTW MJ). Kegiatan awal KTW MJ dimulai tahun 2020 dengan menanam 100 rumpun jahe. Mereka sudah pula mengembangkan komoditi tanaman obat lainnya dan membuat jamu-jamu sachet.

Yang membedakan jahe merah yang dihasilkan dari KTW MJ dengan jahe merah di sekitar desa ada pada teknik pengolahan lahan. Umumnya, masyarakat membersihkan lahan gambut dengan cara membakar. Bagi Tuti dan kawan-kawannya, cara itu tidak digunakan.

Demplot tanaman jahe merah mereka menggunakan Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan pupuk organik. Pengetahuan ini diperoleh dari Sekolah Lapang Petani Gambut.

Di setiap pekarangan anggota kelompok ditanami Toga. Mereka bersama-sama memproduksi jamu-jamuan. “Lumayan menambah pendapatan keluarga dan juga kelompok. Dari tiap kilogram jahe yang dijual anggota kami, disisihkan Rp 5.000 untuk kas kelompok," kata Tuti.

Baca juga: Budidaya Pertanian di Lahan Gambut Harus Perhatikan Pengaturan Tata Air

Antusiame Tuti untuk menjaga Kesehatan warga desa semakin meningkat dengan kegiatan kelompok tani ini. Belakangan, ia juga mencoba membuat hand-sanitizer dari bahan-bahan alami di desanya. Pengetahuan didapat dari pelatihan yang diselenggarakan BRGM.

Desa Temiang berada di dekat Suakamargasatwa (SM) Bukit Batu. Desa ini menjadi dampingan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) tahun 2020 lalu, melalui program Desa Mandiri Peduli Gambut.

Berita ini tayang di Kontan dengan judul: Kontribusi perempuan dalam pemanfaatan lahan gambut terus didorong

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas