Tribun Bisnis

Menkeu Yakin Pertumbuhan Ekonomi Capai 5 Persen di Kuartal III 2021

Adanya kenaikan cukup signifikan dalam PNBP, terutama karena peningkatan harga sumber daya alam.

Editor: Dewi Agustina
Menkeu Yakin Pertumbuhan Ekonomi Capai 5 Persen di Kuartal III 2021
Ist
Menkeu Sri Mulyani 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 383,2 triliun per Agustus 2021.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit tersebut masih aman atau sebesar 2,32 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Posisi APBN pada Agustus adalah defisit Rp 383,2 triliun atau 2,32 persen dari PDB. Jangan lupa bahwa di dalam Undang-undang APBN, (target) defisit itu adalah 5,7 persen dari PDB," ujar Sri Mulyani saat konferensi pers APBN Kita, Kamis (23/9/2021).

Dia merincikan, dari target belanja negara mencapai Rp 2.750 triliun yang sudah direalisasi sebesar Rp 1.560,8 triliun atau 56,8 persen.

"Ini naik 1,5 persen dari tahun lalu. Sementara, belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.087,9 triliun atau naik 10,9 persen dan TKDD Rp 472,9 triliun, turun 15,2 persen," kata Sri Mulyani.

Selanjutnya, realisasi pajak mengalami kenaikan menjadi Rp 741,3 triliun atau 60,3 persen dari target Rp 1.229,6 triliun.

"Berarti ini tumbuh 9,5 persen. Selain itu, Bea Cukai juga masih menunjukkan perbaikan, terutama dikaitkan atau didukung oleh penerimaan bea keluar Rp 158 triliun dari target Rp 215 triliun atau 73,5 persen," katanya.

Lalu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari target Rp 299,1 triliun sudah terealisaai Rp 277,7 triliun atau mencapai 93,1 persen.

Sri Mulyani mengungkapkan, adanya kenaikan cukup signifikan dalam PNBP, terutama karena peningkatan harga sumber daya alam.

Terakhir, dia menambahkan, primary balance ada di angka Rp 170 triliun dan realisasi pembiayaan untuk investasi baru 33,5 persen dari target Rp 187,1 triliun.

"Di mana Rp 61,8 triliun sudah terealisir atau 33,5 persen, mengalami kenaikan 127 persen. Kemudian, pembiayaan hingga saat ini dari target Rp 1.006,4 triliun, realisasinya Rp 528,9 triliun atau 52,6 persen," kata Sri Mulyani.

Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga tetap percaya diri ekonomi bisa tumbuh 5 persen di kuartal III 2021.

"Kalau kita lihat kuartal ketiga, pertumbuhan kita proyeksinya meningkat menjadi 4 persen hingga 5 persen," ujarnya.

Sri Mulyani menjelaskan, indikator-indikator, baik di sisi konsumsi maupun produksi menggambarkan resiliensi atau cukup bertahannya ekonomi Indonesia dari hantaman varian delta.

"Meskipun kemarin kita dihadapkan pada hantaman delta varian yang berat, ini memberikan optimisme kepada kita. Pertumbuhan ekonomi akan bisa meningkat lebih baik lagi di kuartal 4," katanya.

Namun, tentu syaratnya dengan asumsi varian baru maupun terjadinya cluster akibat aktivitas di pendidikan maupun ekonomi masih bisa terkendali dengan baik.

"Sehingga dengan aktivitas itu, tidak harus diinjak rem lagi karena kita dihadapkan pada kenaikan jumlah kasus Covid-19. Selain itu, yang kita khawatirkan adalah banyak masuk ke rumah sakit dan menimbulkan ancaman kematian," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Kembangkan Usaha, Menko Perekonomian Minta Pelaku UMKM Manfaatkan KUR Bunga 3 Persen

Kredit Tumbuh

Terpisah, Bank Indonesia (BI) dalam laporannya menyebutkan, penyaluran kredit pada Agustus 2021 sebesar Rp 5.574,4 triliun.

Berdasarkan data, angka tersebut tumbuh positif, meski hanya sebesar 1,0 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

"Kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Agustus 2021 tercatat mengalami akselerasi," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono.

Erwin menjelaskan, akselerasi pertumbuhan kredit terjadi pada debitur perorangan dan korporasi.

Untuk kredit kepada perorangan pada Agustus 2021 tumbuh menjadi sebesar 4,7 persen (yoy) dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,2 persen (yoy).

Sementara itu, kredit kepada korporasi mencatat perbaikan meskipun mengalami pertumbuhan negatif -1,8 persen (yoy).

Berdasarkan jenis penggunaannya, perkembangan penyaluran kredit pada Agustus 2021 dipengaruhi oleh penyaluran Kredit Investasi (KI), Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Konsumsi (KK).

Erwin kembali melanjutkan, KI masih menunjukkan kontraksi sebesar -1 persen (yoy) pada Agustus 2021, membaik dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar -1,7 persen.

"Perbaikan tersebut ditopang oleh perbaikan kredit investasi pada sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR)," paparnya.

Baca juga: Ketika Menkeu Sri Mulyani Singgung soal Lambatnya Penyaluran Bansos di Daerah

Sementara untuk KMK mengalami pertumbuhan 0,2 persen (yoy) pada Juli 2021, menjadi 1 persen pada Agustus 2021.

Kinerja KMK terutama didorong sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan serta sektor industri pengolahan.

Untuk pertumbuhan Kredit Konsumsi (KK) juga tercatat mengalami akselerasi, dari 2,3 persen (yoy) pada Juli 2021, menjadi 2,7 persen.

Perbaikan kredit konsumsi ini ditopang oleh perbaikan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna.

Dimana diketahui, penyaluran kredit sektor Properti pada Agustus 2021 tumbuh 5,1 persen (yoy), meningkat dibandingkan Juli 2021 yang sebesar 4,9 persen (yoy).

Erwin juga menyebut, penyaluran kredit kepada UMKM pada Agustus 2021 masih tumbuh positif sebesar 2,4 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 1,8 persen (yoy).(Tribun Network/ism/van/wly)

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas