Tribun Bisnis

UMKM Menginspirasi

From Zero to Hero, Kampung Tumang Jadi Sentra Kerajinan Tembaga Terbaik di Indonesia

Kampung Tumang berlokasi di Desa Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, dan tersohor sebagai kampung sentra industri kerajinan tembaga.

BizzInsight
zoom-in From Zero to Hero, Kampung Tumang Jadi Sentra Kerajinan Tembaga Terbaik di Indonesia
Istimewa
Proses pembuatan kerajinan tembaga. 

TRIBUNNEWS.COM – Bahan tambang tembaga banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, tersebar dari Pulau Jawa hingga Papua.

Tembaga memiliki berbagai manfaat, dari sebagai bahan baku kabel listrik hingga bahan pembuatan kerajinan tangan.

Berbicara mengenai kerajinan tangan, ada satu kampung di wilayah pedesaan di Jawa Tengah yang dihuni oleh para warga yang berkeahlian membuat kerajinan tangan dari tembaga, lho! Usut punya usut, kampung tersebut memproduksi kerajinan tembaga terbaik di Indonesia.

Kampung tersebut adalah Kampung Tumang, berlokasi di Desa Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Kampung Tumang tersohor sebagai kampung sentra industri kerajinan tembaga.

Tak main-main, produk karya pengrajin tembaga Kampung Tumang telah berhasil dipasarkan ke mancanegara.

Muhammad Mansyur, pemilik Daffi Art Gallery and Studio, salah satu UMKM penghasil kerajinan tembaga, bercerita bahwa kampung Tumang diberkahi oleh para warganya yang pawai mencipta kerajinan dari bahan baku berupa tembaga dan kuningan. 

“Kerajinan tembaga ini sangat seksi bagi kami karena dari awal sumber daya manusia dan pengalaman serta skill di desa ini melimpah,” ujar Mansyur.

Menurutnya, banyak pelaku usaha di desa tersebut, mulai dari penyedia bahan baku, pengrajin genteng, pengrajin ukir, pengusaha bahan bekas pengusaha bahan limbah, dan pengusaha finishing--kini semuanya jadi satu kesatuan.

Sejak dulu, tembaga adalah sumber mata pencaharian utama dari warga Desa Cepogo. Akan tetapi, hal tersebut tak lantas menjadikan desa di bawah kaki lereng Gunung Merapi ini berkembang dan mapan secara ekonomi.

Maka itu, Daffi Art Gallery and Studio membentuk klaster tembaga Tumang.

“Kami mendirikan klaster tembaga Tumang untuk mengakomodasi kepentingan banyak hal terkait pelaku usaha kerajinan sehingga bisa bermanfaat dan lebih memajukan perekonomian di sana,” ungkap Mansyur.

Di klaster tembaga Kampung Tumang, para pengrajin melakukan berbagai tahapan produksi saat mengerjakan kerajinan.

Pertama, pengrajin menyiapkan bahan baku sebelum melakukan pengelasan (welding). Setelah itu, barang kerajinan diukur sesuai ukuran tinggi dan dimensi dalam proses penggentengan, sebelum dilakukan tahapan grafir untuk menciptakan motif dan tekstur. 

Terakhir, dilakukan proses finishing dan pewarnaan hingga penjemuran selama satu hari sebelum mengemas dan mengirim barang kerajinan ke tempat tujuan. 

Berbagai langkah untuk survive hadapi ragam rintangan

kampung tumang bri 2
Koleksi kerajinan tembaga dan kuningan klaster tembaga Desa Tumang.

Berbicara soal rintangan, Mansyur bercerita usahanya telah dihadapkan pada berbagai masalah hingga pernah merugi. Namun, ia tetap bertahan berkat komitmen dan konsistensi yang dilakukannya bersama warga yang tergabung di klaster Tumang. 

“Usaha ini saya bangun dari nol dengan modal keberanian. Dengan keberanian ini berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi. Risikonya adalah kerugian, penipuan, wanprestasi dari buyer, dengan pengalaman tersebut, kita bisa lebih fokus lagi mengembangkan usaha kerajinan di sentra industri kerajinan ini,” tutur Mansyur.

Tetapi, salah satu kendala utama yang dihadapi klaster tembaga Tumang adalah impor bahan baku dengan harga cukup selangit. Menurutnya, harga tembaga impor yang fluktuatif, bahkan cenderung tinggi, menjadi masalah yang tak jarang harus mereka hadapi.

Untuk mengantisipasi fluktuasinya bahan baku, salah satu upaya yang mereka lakukan adalah dengan mengikuti program Kemudahan Impor Tujuan Ekspor untuk Industri Kecil Menengah (KITE IKM).

Terbaru, Mansyur mengungkapkan kondisi pandemi juga memberikan dampak yang cukup parah hingga omzetnya terjun drastis sampai 75 persen. 

“Tahun 2020 omzet menurun 50-75 persen, ditambah bahan baku mahal,” ucapnya. 

Pada akhirnya, masalah tersebut bisa diatasi dengan konsistensi yang dilakukan oleh para pengrajin klaster tembaga Tumang. Mereka bereksperimen melalui promosi offline dan online.

Upaya akselerasi bisnis klaster tembaga Tumbang juga kian tertolong berkat hujanan order aksesoris oleh tempat ibadah, seperti kubah masjid dan kaligrafi.

kampung tumang bri 3
Muhammad Mansyur, pemilik dari Daffi Art Gallery and Studio salah satu usaha kerajinan di Desa Cepogo, Boyolali.

Tak ketinggalan, di samping mengikuti program kemudahan impor dan promosi online, klaster tembaga Tumang juga mengaku sangat terbantu dengan dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program pendampingan dan pembinaan UMKM yang dimiliki.

BRI melakukan pemberdayaan klaster usaha tembaga Tumang untuk meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan usahanya. Klaster tembaga Tumang mendapat dukungan melalui berbagai program, salah satunya melalui Desa BRILian. Desa BRILian membantu para warga Kampung Tumang lebih berdaya secara ekonomi dan dapat membangun ekonomi desa.

“BUMN BRI sangat berjasa sekali dengan kemajuan klaster sentra tembaga Tumang karena BRI sebagai mitra yang terintegrasi dengan BUMDes dan program Desa BRILian,” ungkap Mansyur.

Tak hanya itu, klaster tembaga Tumang juga mendapatkan bantuan pembiayaan dari BRI yang dapat dimanfaatkan untuk modal impor dan kegiatan operasional bisnis lainnya.

“Terkait pembiayaan BRI juga membantu banget untuk permodalan, dengan adanya pinjaman KUR, dan terus ada juga BRILink,” beber Mansyur.

Menurutnya, salah satu program yang manfaatnya terasa adalah BRILink, perluasan layanan BRI di mana BRI menjalin kerjasama dengan nasabah sebagai agen yang dapat melayani transaksi perbankan bagi masyarakat umum.

“Dengan adanya BRILink penghasilan yang didapat dari para buyer ketimbang susah-susah Kita transferan ke Boyolali atau ke mana, dengan adanya BRILink kita dapat menukar uang ke BUMDes,” jelas Mansyur.

Berkat segala keuntungan yang didapatkan Desa Cepogo melalui program pembinaan UMKM dari BRI, terutama Desa BRIlian, kini desanya berhasil mendapatkan prestasi di tingkat nasional.

“Desa kami menjadi bagian dari program desa BRILian dan kami mendapat peringkat dua nasional yang menjadi magnet luar biasa untuk perkembangan desa kami ke depannya,” tutup Mansyur.

Desa BRIlian adalah program desa binaan BRI yang mendorong inovasi berkelanjutan bagi desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Program ini pulalah yang membuat para warga Kampung Tumang optimistis untuk mempertahankan sentra kerajinan tangan tembaga terbesar di Indonesia itu.

Demi kerajinan tembaga yang tak punah dan terus beregenerasi di masa depan. Demi roda ekonomi masyarakat agar terus berputar.

Penulis: Fitrah Habibullah/Editor: Bardjan

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas