Pandemi Mulai Mereda, Konsumsi Masyarakat Diperkirakan Terus Meningkat
Konsumsi masyarakat Indonesia dinilai mulai membaik seiring meredanya pandemi Covid-19 dan ekonomi nasional mulai pulih.
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Konsumsi masyarakat Indonesia dinilai mulai membaik seiring meredanya pandemi Covid-19 dan ekonomi nasional mulai pulih.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyampaikan, faktor pendorong pemulihan konsumsi masyarakat tidak hanya mengacu pada penyebaran virus Covid-19 yang mereda saja.
Koordinator Wakil Ketua Umum III Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Shinta Kamdani menyebut, terdapat juga faktor kebebasan melakukan kegiatan usaha dan kebebasan mobilitas masyarakat yang diawali oleh turunnya laju penularan Covid-19.
Baca juga: BFN dan IFS 2021 Dorong Pemanfaatan Fintech dan Akselerasi Inklusi Keuangan Perkuat Ekonomi
Bila salah satu dari tiga faktor yang disebut tadi masih tidak terealisasikan, maka laju pemulihan konsumsi masyarakat akan terhambat.
“Banyak sektor yang produktivitas dan konsumsinya tidak bisa digantikan dengan interaksi online. Ini pelajaran yang nyata sepanjang pandemi dalam 1,5 tahun terakhir,” ungkap dia, Minggu (12/12/2021).
Untuk tahun 2022, Kadin memproyeksikan bahwa pemulihan konsumsi masyarakat akan sejalan dengan perkiraan peningkatan produktivitas ekonomi nasional.
Baca juga: Anwar Abbas MUI: Kongres Ekonomi Umat Soroti Kesenjangan Sosial di Tengah Masyarakat
Diperkirakan oleh Kadin, konsumsi masyarakat Indonesia di 2022 akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 ini, mengingat tingkat ketidakpastian terhadap masalah pandemi cenderung lebih rendah di tahun depan.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan konsumsi masyarakat akan semakin melesat seperti sebelum masa pandemi jika penyebaran virus Covid-19 terus berkurang dan pengetatan mobilitas masyarakat semakin minim di sepanjang tahun 2022.
Namun, hal seperti itu adalah bentuk skenario terbaik jika Indonesia sukses mengendalikan pandemi di tahun depan.
Apabila di tahun 2022 kembali terjadi pengetatan mobilitas dan pembatasan operasi usaha secara masif, tentu proses normalisasi konsumsi dan pemulihan daya beli masyarakat Indonesia akan terhambat dari proyeksi semula.
Baca juga: Bangun Ekonomi Masyarakat, Integrasi Bisnis UMKM di Jawa Tengah Terus Didorong
“Secara esensi, daya beli dan konsumsi masyarakat hanya akan terdongkrak secara maksimal ketika kegiatan ekonomi naik signifikan,” tukas Shinta.
Dia menambahkan, insentif yang diperlukan untuk menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat sejatinya tergantung pada kondisi pandemi dan bentuk kebijakan pengendalian pandemi yang diterapkan pemerintah.
Apabila di tahun 2022 pemerintah kurang sukses mengendalikan pandemi atau perlu melakukan pembatasan kegiatan secara ketat, maka idealnya seluruh bentuk stimulus pemulihan ekonomi nasional harus kembali digelontorkan.
Di sisi konsumsi, diperlukan stimulus dalam bentuk subsidi-subsidi kepada masyarakat kelas menengah ke bawah agar daya beli mereka terjaga.
Baca tanpa iklan