Tribun Bisnis

Ekspor Industri Manufaktur Kian Positif di Tengah Himpitan Pandemi

sektor industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Penulis: Lita febriani
Editor: Sanusi
zoom-in Ekspor Industri Manufaktur Kian Positif di Tengah Himpitan Pandemi
dok Kemenperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Jumpa Pers Akhir Tahun 2021 dan Outlook 2022 di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (29/12/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Lita Febriani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian mengungkapkan selama ini sektor industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Tercatat, pada periode Januari-November 2021, nilai ekspor dari industri manufaktur mencapai 160 miliar dolar AS atau berkontribusi sebesar 76,51 persen dari total ekspor nasional.

Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 131 miliar dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor tahun 2019.

Baca juga: KAI: 13 Ribu Penumpang Tiba di Stasiun Gambir dan Pasar Senen Hari Ini

Jika dibandingkan dengan Januari-November 2020 (c-to-c), kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 meningkat sebesar 35,36 persen.

Kinerja ekspor sektor manufaktur ini sekaligus mempertahankan surplus neraca perdagangan yang dicetak sejak bulan Mei 2020.

Baca juga: PMI Manufaktur Indonesia Paling Ekspansif di ASEAN, Kalahkan Thailand

"Kenapa ekspor kita bisa naik setinggi itu? Salah satunya karena kita berani untuk menghentikan ekspor raw material, seperti bahan mentah dari minerba, yaitu nikel. Dari awalnya, ekspor sekitar 1-2 miliar dolar AS, kini sudah hampir mencapai 21 miliar dolar AS. Oleh sebab itu, Bapak Presiden telah memberikan arahan untuk melanjutkan setop ekspor bauksit, tembaga, timah dan lainnya, karena hilirisasi menjadi kunci dalam kenaikan ekspor kita," kata tutur Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Senin (3/1/2022).

Sementara itu, impor untuk bahan baku dan bahan penolong juga naik sebesar 52,6 persen.

Baca juga: Soal Larangan Ekspor Batu Bara, Pemerintah Harus Konsisten dan Tegas Terapkan DMO

Bahan baku dan bahan penolong ini sebagai kebutuhan untuk diolah oleh industri di dalam negeri sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Indikator pulihnya perekonomian nasional, juga ditunjukkan dari peringkat daya saing Indonesia yang terus meningkat, baik itu dari aspek bisnis maupun digital.

"Dalam posisi yang sangat berat pada tahun 2021 karena dampak pandemi, kita masih mampu naik ranking. Di aspek bisnis dan digital, naik tiga peringkat semuanya," tutur Agus.

Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, Menperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5-5 persen pada tahun 2022.

"Kami fokus untuk terus membangun sektor industri manufaktur yang berdaulat, mandiri, berdaya saing, dan inklusif," terangnya.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas