Tribun Bisnis

Lawan Inflasi, Coca-Cola Beralih ke Botol Kaca Isi Ulang

The Coca-Cola Company memperingatkan permintaan konsumen dapat melambat akibat inflasi yang merajalela

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Sanusi
zoom-in Lawan Inflasi, Coca-Cola Beralih ke Botol Kaca Isi Ulang
ISTIMEWA
ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, DETROIT - Perusahaan minuman multinasional, The Coca-Cola Company memperingatkan permintaan konsumen dapat melambat akibat inflasi yang merajalela, sehingga saat ini perusahaan sedang berfokus untuk beralih ke botol kaca isi ulang yang memiliki harga lebih terjangkau.

Permintaan soda dan makanan kemasan sejauh ini masih kuat, walaupun ada kenaikan harga yang diakibatkan karena naiknya harga kaleng alumunium, gula, tenaga kerja hingga transportasi.

Namun, Chief Executive Officer (CEO) Coca-Cola, James Quincey mengatakan kestabilan permintaan tidak akan bertahan selamanya.

Baca juga: Inflasi Bulanan Jepang Diperkirakan Bank Sentral Jepang Bertambah 2%

“Saya tidak mengharapkan elastisitas (harga) menjadi inelastis ke depan. Saya memperkirakan elastisitas meningkat di beberapa titik di masa depan. Apakah itu kuartal berikutnya? Atau tahun depan? Saya tidak bisa memberikan jawaban untuk itu.” kata Quincey, yang dikutip dari laman Reuters.com.

Untuk mempersiapkan penurunan daya beli konsumen yang telah diperkirakan, Coca-Cola mengatakan sedang memperluas distribusi botol kaca yang dapat dikembalikan atau diisi ulang, yang memiliki harga lebih murah di pasar negara berkembang, seperti Amerika Latin dan Afrika.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Antisipasi Hadapi Potensi Lonjakan Inflasi

Perusahaan ini juga bereksperimen dengan botol isi ulang untuk pasar di Amerika Serikat Barat Daya.

Pendapatan bersih Coca-Cola naik 16 persen menjadi 10,5 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun ini. Namun perusahaan mengatakan, penangguhan operasinya di Rusia akan berdampak pada penurunan laba tahunan sebesar 4 sen per saham, dan pendapatan bersih tahunan sekitar 1 hingga 2 persen.

Sementara itu, Perusahaan internasional yang memproduksi barang konsumen yang bergerak cepat (FMCG), Procter & Gamble (P&G) awal bulan ini mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan untuk produk perawatan kewanitaan, rumah tangga, dan mulut di AS akan melemah seiring kenaikan harga yang tinggi.

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas