Tribun Bisnis

Parameter Ekonomi Dunia Berubah Dratis, Menkeu, BI, dan OJK Disarankan 'Rajin' Koordinasi

Pimpinan OJK yang baru, kata Deni, harus terus memantau perkembangan makroekonomi dunia, yang bisa berubah tiap detik.

Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Parameter Ekonomi Dunia Berubah Dratis, Menkeu, BI, dan OJK Disarankan 'Rajin' Koordinasi
istimewa
deni daruri 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), A Deni Daruri menilai, terpilihnya DK OJK di bawah pimpinan Mahendra Siregar akan menghadapi banyak tantangan

Dia menilai, masih banyak pekerjaan berat yang harus dilakukan dewan komisioner OJK yang dinahkodai duet Mahendra Siregar-Mirza Aditsyawara.

"Kondisi makroekonomi dunia yang begitu labil, menjadi tantangan berat DK OJK yang baru. Kalau tidak cerdas dan cekatan, habislah kita," ungkapnya, Jakarta, Senin (7/6/2022).

Baca juga: Erick Thohir Bakal Tunjuk IFG untuk Kelola Dana Pensiun BUMN, Ini Kata OJK

Pimpinan OJK yang baru, kata Deni, harus terus memantau perkembangan makroekonomi dunia, yang bisa berubah tiap detik.

Indonesia adalah negara dengan small open economy, OJK trengginas dalam mengantisipasi setiap perubahan global.

"Tentu saja dengan program stabilitas keuangan, ketimbang lainnya yang justru berdampak bagi ketidakstabilan sektor keuangan," paparnya.

Sinkronisasi kebijakan dalam konteks stabilitas, menurutnya, harus dikoordinasikan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang berada di luar kontrol OJK.

"Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan baik, maka OJK berpotensi menjadi Lembaga reaktif yang berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja," tuturnya.

Deni menyarankan agar OJK tidak mudah terpukau dengan data BPS. Akan lebih baik apabila OJK membuat seluruh data sektor keuangan menjadi transparan dan real time. Mudah diakses publik dengan akurasi tinggi.

"Menciptakan unit wake up call khusus yang memantau secara seksama perubahan makroekonomi dunia saat ini yang berpotensi merusak sistem keuangan nasional," tuturnya.

Baca juga: OJK Dorong Peningkatan Literasi dan Kompetensi Digital Melalui Kampus

Lembaga kredibel sekelas IMF saja memproyeksikan inflasi global pada 2022 mencapai 5,7 persen di negara maju, 8,7 persen untuk negara berkembang.

Selain itu, IMF memproyeksikan angka pertumbuhan 6,1 persen (2021), merosot menjadi 3,6 persen untuk 2022. Sedangkan untuk 2023, IMF proyeksikan perekonomian global hanya tumbuh 3,3 persen.

Lembaga Think Tank Inggris, National Institute of Economic and Social Research (NIESR) mengkhawatirkan terjadinya resesi. Krisis biaya hidup ditambah tingginya inflasi, memperlambat ekonomi Inggris dalam setahun ini.

Bagaimana dengan RRC?  Ternyata sama saja. Tahun ini, defisit anggaran China diperkirakan mencapai 5,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2021, defisit China lebih rendah yakni 4,4 % dari PDB.

Sedangkan suku bunga acuan di Indonesia, diproyeksikan 4,00 persen pada 2023, dan 4,25 persen pada 2024.

The Economist Intelligence Unit memperkirakan, The Fed akan menaikkan suku bunga 7 kali hingga mencapai 2,9 persen pada awal 2023. (*)

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas