Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Dulu Jadi Primadona, Kios-kios ITC Roxy Mas Kini Tutup Rolling Door Rapat-rapat

Suasana International Trade Centre (ITC) Roxy Mas, Gambir, Jakarta Pusat, kini sepi.Kios-kios menutup rolling door rapat-rapat

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sanusi
zoom-in Dulu Jadi Primadona, Kios-kios ITC Roxy Mas Kini Tutup Rolling Door Rapat-rapat
Dennis Destryawan
Suasana International Trade Centre (ITC) Roxy Mas, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (7/7/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana International Trade Centre (ITC) Roxy Mas, Gambir, Jakarta Pusat, kini sepi. Kios-kios menutup rolling door rapat-rapat. "Ruko ini disewakan, silahkan hubungi nomor di bawah ini," begitu tulisnya.

Suasana di ITC Roxy Mas jauh berbeda saat sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia. Keramaian orang-orang pencari ponsel, aksesoris, laptop, dan barang elektronik lainnya tak lagi sama. Jika 3 tahun lalu, jalan harus berhimpitan lantaran keramaian, kini bisa bebas melenggang.

"Ini udah pas pandemi aja. Lebih dari 50 persen lah menurun," ujar Iam, seorang penjaga toko di ITC Roxy Mas, Jakarta Pusat, Kamis (7/7/2022).

Baca juga: Viral Pengunjung Serbu Diskon Lebaran di ITC BSD, Rela Berbuka Puasa Gelar Tikar

Di sisi lain, dua orang perempuan duduk berbincang di depan ruko dengan rolling door tertutup rapat. Tak terlihat kesibukan melayani para pembeli. Mereka duduk seraya merumpi. Sedangkan, terlihat dua orang pria berkemeja hijau berdiri sambil menawarkan produk.

"Silakan Mas, Rp 4 jutaan RAM 8 GB, kamera 64 Mega," katanya menawarkan sambil menyodorkan pamflet.

Baca juga: DJKI Edukasi Pedagang ITC Mangga Dua untuk Menekan Peredaran Barang Palsu

Di lantai 2, 3, 4 ada puluhan kios yang ditutup rapat-rapat. Menurut seorang penjaga toko, Reni kebanyakan yang tutup kios-kios penjual ponsel dan aksesoris. Lantaran mereka beralih aktivitas jual-beli ke pasar daring.

Rekomendasi Untuk Anda

"Setahu saya sih, sekarang jualannya banyak pada online. Sewa ruko kan' lumayan (biaya sewa)," tuturnya.

Kios-kios yang tutup, disewakan oleh pemilik. Tercantum di sejumlah pasar daring dengan harga sewa dari Rp 150 juta - Rp 200 juta selama per tahun. Transformasi digital berkembang pesat, sehingga mempengaruhi pola perilaku konsumen.

Dipengaruhi Perilaku Konsumen

Hal tersebut disampaikan Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Tutum Rahanta. Menurutnya, konsumen kini bisa duduk manis dari rumah untuk membeli ponsel.

"Sekarang orang bisa beli ponsel secara online, tidak perlu datang ke toko fisik," kata Tutum.

Selain itu, pedagang juga sudah memiliki banyak opsi untuk menjual produk. Bisa melalui pasar daring, sosial media, secara langsung melalui grup-grup aplikasi pesan, dan lainnya.

"Sekarang tidak perlu kios, jual saja dari rumah," tutur Tutum.

Suasana International Trade Centre (ITC) Roxy Mas
Suasana International Trade Centre (ITC) Roxy Mas, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (7/7/2022).

Ditambah Tutum, seharusnya International Trade Centre (ITC) jadi tempat produk-produk grosiran. Bukan ritel. Karena akan kalah saing dengan pusat perbelanjaan, yang menawarkan one stop shopping. Sebab, ucap Tutum, banyak kios di ITC dimiliki oleh perseorangan dan disewakan kembali.

"Disaat ekonomi lesu, orang tidak mau sewa, daya tarik tidak ada, karena tidak ada one stop shopping," ucap Tutum.

Tutum mencontohkan, konsep ITC seharusnya mengikuti seperti Tanah Abang. Lantaran menjual secara grosiran, untuk kemudian dipasarkan kembali di daerah-daerah atau di tempat lain.

"Tanah Abang itu ITC, karena dibaliknya industri. Walaupun ada sebagian jual ritel," kata Tutum.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas