Freeport Indonesia Targetkan Penurunan Karbon Sebesar 30 Persen Hingga 2030
PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan penurunan emisi karbon di internal hingga 2030 sebesar 30 persen, melalui berbagai cara
Penulis:
Seno Tri Sulistiyono
Editor:
Hendra Gunawan
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan penurunan emisi karbon di internal hingga 2030 sebesar 30 persen, melalui berbagai cara dalam kegiatan operasional perseroan.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, dalam mendukung ekonomi hijau dan juga target pemerintah net zero emission atau bebas emisi karbon pada 2060, maka perseroan pun telah berupaya menurunkan emisi karbon
"Komitmen kami untuk mengurangi intensitas gas rumah kaca sebanyak 30 persen pada 2030," kata Tony saat Webinar Bincang Dua Puluh: Misi Berkelanjutan melalui Penurunan Emisi yang diselenggarakan Harian Kompas, Kamis (7/7/2022).
Baca juga: Lowongan Kerja Freeport Indonesia 2022: Tersedia 8 Posisi Penempatan Jawa Timur, Ini Syaratnya
Tony menjelaskan, PTFI merupakan perusahaan tambah tembaga bawah tanah terbesar di dunia, dan komoditas tambang tersebut merupakan bagian penting dari transisi energi ke energi ramah lingkungan.
"Dalam renewable energy, tentunya tembaga dibutuhkan jauh lebih banyak dibandingkan energi fosil. Contohnya pembangkit listrik tenaga bayu, untuk tembaganya butuh 1.5 ton untuk 1 megawatt dan solar panel itu butuh 4 ton per MW, serta mobil listrik butuh 4 kali lipat dari mobil konvensional," ujarnya.
"Ini adalah bagian kontribusi PTFI untuk mendukung renewable energy menuju net zero emission," sambungnya.
Baca juga: Kejaksaan Agung Periksa Direktur Freeport Indonesia Terkait Kasus Asabri
Pada kesempatan yang sama, VP Enviromental PT Freeport Indonesia Gesang Setiadi menyampaikan, PTFI sejak 2020 sudah beralih dari tambang terbuka menjadi tambang bawah tanah.
Hal ini tentunya mengurangi kendaraan truk besar yang beroperasi, sehingga emisi karbon dapat ditekan dalam aktivitas pertambangan.
"Sebagian besar sekarang kegiaan operasionalnya di bawah tanah, kami gunakan kereta api listrik yang bisa mengurangi emisi sekitar 80 ribu metrik ton per tahun, atau setara dengan operasional 50 sampai 60 howl truck,” tuturnya.
Baca juga: Panglima TNI Bahas Titik Rawan Sampai Transparansi Insentif Prajurit Dengan PT Freeport Indonesia
Selain itu, Gesang menyebut PTFI berencana mengganti mengganti bahan bakar pembangkit listrik dari batubara dengan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG).
"Jika kami berhasil menganti tenaga batubara dengan LNG, maka otomatis kami bisa kurangi emisi sekitar 50 persen," tuturnya.
Baca tanpa iklan