Dalam Tiga Bulan, SoftBank Jepang Rugi 17 Miliar Dolar AS
Portofolio teknologi yang anjlok telah membuatnya mengalami kerugian bersih 3,16 triliun yen atau sekitar 23,4 miliar dolar AS pada kuartal terakhir
Penulis:
Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – SoftBank Group Corp Jepang membukukan kerugian sebesar 2,33 triliun yen atau sekitar 17,25 miliar dolar AS pada unit Vision Fund untuk kuartal April hingga Juni di tengah anjloknya nilai portofolio teknologinya.
Sebelumnya, SoftBank membukukan rekor kerugian di unit Vision Fund pada Mei karena gejolak pasar yang didorong oleh kenaikan suku bunga dan ketidakstabilan politik yang menghantam investor teknologi.
Portofolio teknologi yang anjlok telah membuatnya mengalami kerugian bersih 3,16 triliun yen atau sekitar 23,4 miliar dolar AS pada kuartal terakhir. Sementara laba yang diperoleh yakni sebesar 761,5 miliar yen atau sekitar 563,75 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: Tuntutan Zaman, Bisnis Penjualan Tatap Muka Mulai Adopsi Teknologi
Sementara itu, pendiri dan CEO SoftBank Masayoshi Son dalam pernyataannya, berjanji untuk memperketat kriteria investasi.
Pada kuartal yang berakhir pada bulan Juni, jatuhnya investasi telah dialami oleh perusahaan robotika AutoStore Holdings dan perusahaan kecerdasan buatan SenseTime Group.
SoftBank mengatakan pihaknya membukukan kerugian 296 miliar yen atau sekitar 219,13 juta dolar AS dari nilai investasi swasta Vision Fund.
Sedangkan, analis mengatakan bahwa penurunan aset swasta tidak mungkin mencerminkan sejauh mana kelemahan pasar saat ini.
Turunnya volume penawaran umum perdana dan skeptisisme pasar terhadap startup yang merugi telah menekan sumber modal penting bagi SoftBank, yang berharap untuk mendaftarkan perancang chip Arm setelah runtuhnya penjualan ke Nvidia.
Aksi jual telah memukul hedge fund Tiger Global, yang bersaing dengan “pemburu unicorn” Son dalam kesepakatan dan melihat dana andalannya turun 50 persen pada paruh pertama tahun ini setelah meremehkan dampak lonjakan inflasi di pasar.
Baca tanpa iklan