Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

PKS Nilai Pemerintah Berlebihan soal Rencana Menaikkan Harga Revo 89

Mulyanto mengatakan pemerintah tidak berhak dan berwenang mengatur harga bawah BBM non subsidi dari operator swasta.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in PKS Nilai Pemerintah Berlebihan soal Rencana Menaikkan Harga Revo 89
Apfia Tiocony Billy/Tribunnews.com
SPBU pertama PT Vivo Energy Indonesia di Jalan Raya Cilangkap, RT 007/003, Kelurahan Cilangkap Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fersianus Waku

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto menganggap pemerintah lebay setelah meminta pihak Vivo untuk menyesuaikan harga BBM jenis Revo 89.

Mulyanto mengatakan pemerintah tidak berhak dan berwenang mengatur harga bawah BBM non subsidi dari operator swasta.

"Harga BBM yang murah ini kan menguntungkan masyarakat. Di tengah harga BBM subsidi Petalite RON 90 yang seharga Rp 10.000 per liter," kata Mulyanto dalam keterangannya, Senin (5/9/2022).

Ia meminta pemerintah membuka data harga pokok produksi (HPP) BBM bersubsidi yang berlaku selama ini.

Baca juga: Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, dan Vivo di Indonesia

Mulyanto merasa ada yang aneh terkait kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi dua hari lalu.

Sebab, pada saat yang sama harga BBM non subsidi di Pertamina, Shell dan Vivo malah diturunkan, menyusul anjloknya harga minyak dunia.

Rekomendasi Untuk Anda

Untuk BBM jenis Revvo 89 yang harga sebelumnya Rp 9.290 per liter turun menjadi Rp 8.900 per liter. Akibatnya masyarakat menyerbu SPBU Vivo.

Melihat perbedaan harga jual tersebut, Mulyanto meminta pemerintah perlu memberi penjelasan, kenapa harga jual Pertalite yang bersubsidi malah lebih mahal dari BBM non subsidi Revvo 89.

"Ini kan janggal. Pemerintah harus dapat menjelaskan berapa harga pokok produksi (HPP) Pertalite ini yang sebenarnya. Masa harganya masih lebih mahal daripada harga BBM di SPBU swasta. Selisih harga ini pasti akan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat," ujarnya.

Ia menuturkan kalau pemerintah objektif menghitung harga pokok produksi dan harga keekonomian BBM, semestinya tidak ada alasan untuk menaikkan harga BBM jenis apapun. Sebab, harga minyak dunia terus anjlok hingga USD 89 per barel.

Sementara, pemerintah dan DPR sudah sepakat menetapkan asumsi makro harga minyak dunia sebesar USD 100 per barel.

Artinya, fluktuasi harga minyak dunia masih dalam batas kemampuan anggaran negara. Dengan demikian Pemerintah tidak punya alasan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas