Tribun Bisnis

Diterpa Isu Bangkrut, Shopee Lakukan Penutupan Kantor di Sejumlah Negara

perusahaan Shopee kini tengah menghadapi situasi ekonomi makro yang penuh ketidakpastian.

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Diterpa Isu Bangkrut, Shopee Lakukan Penutupan Kantor di Sejumlah Negara
Gramedia
Ilustrasi Shopee. Platform e-commerce Shopee dikabarkan tengah menangguhkan operasinya di kawasan Chili, Kolombia, Meksiko serta Argentina pada Jumat (9/9/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA – Platform e-commerce Shopee dikabarkan tengah menangguhkan operasinya di kawasan Chili, Kolombia, Meksiko serta Argentina pada Jumat (9/9/2022).

Informasi ini diketahui publik setelah CEO Shopee Chris Feng mengirimkan pengumuman pada para karyawannya melalui email, terkait penghentian operasi Shopee serta pemutusan hubungan kerja (PHK) di empat cabangnya yang berada di benua Amerika.

Menurut tiga sumber kepercayaan Reuters dalam email tersebut Feng menjelaskan bahwa perusahaannya kini tengah menghadapi situasi ekonomi makro yang penuh ketidakpastian.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Global Direvisi Menyusut, Ekonom Sebut Indonesia Mampu Tembus di Atas 5 Persen

Alasan inilah yang membuat perusahaan yang berbasis di Singapura itu ingin memfokuskan operasi inti.

Dengan memangkas sebagian karyawannya yang ada di cabang Chili, Kolombia dan Meksiko dan mengubah ketiga cabangnya ini menjadi model lintas batas.

Sementara untuk kantornya yang ada di Argentina, Shopee dikabarkan resmi menutup permanen operasinya demi mencegah pembengkakan pengeluaran di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Shopee telah ada selama tujuh hingga delapan tahun, jadi sekarang mereka harus memfokuskan upaya mereka untuk menghasilkan keuntungan di pasar intinya. Maka dari itu diputuskan untuk beroperasi menggunakan model cross-border untuk Shopee di Meksiko, Kolombia, dan Chili," jelas Feng.

Hengkangnya Shopee di Argentina menambah deret negara yang ditinggalkan perusahaan Shopee.

Pasalnya, perusahaan ini sebelumnya juga telah memutuskan mundur dari India dan Perancis. Tepatnya pada 6 Maret lalu, setelah beroperasi selama enam bulan lamanya.

Meskipun perusahaan tidak menjelaskan secara detail mengenai alasan penutupan operasi Shopee di dua negara tersebut, namun menurut informasi yang beredar kedua cabang e-commerce tersebut ditutup setelah membukukan penurunan pendapatan secara terus – menerus.

Baca juga: Menilik Kaitan Antara Kenaikan Suku Bunga The Fed, Ekonomi Global, Hingga Nilai Tukar Dolar AS

Tak hanya itu pada bulan Juni lalu, mengutip dari Reuters platform Shopee juga dilaporkan telah melakukan pemutusan kontrak kerja dengan ratusan karyawannya di divisi e-commerce dan pengiriman makanan yang ada di Asia Tenggara dan Amerika Latin.

Langkah ini diambil Feng setelah kapitalisasi pasar Sea ini anjlok dan hanya mampu membukukan pendapatan sebesar 27 miliar dolar AS.

Jumlah tersebut terpaut jauh apabila dibandingkan dengan pendapatan Shopee di bulan Oktober tahun lalu, dimana saat itu pendapatan kuartal Shopee melejit 200 miliar dolar AS, dengan didorong penguatan pemasukan pada lini bisnis game dan toko onlinenya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas