Tribun Bisnis

BBM Bersubsidi

Partai Buruh: Inflasi Sektor Makanan akan Tembus 15 Persen Gara-gara Kenaikan Harga BBM

Presiden Partai Buruh Said Iqbal menegaskan, kenaikan harga BBM bersubsidi melemahkan daya beli masyarakat, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawa

Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Partai Buruh: Inflasi Sektor Makanan akan Tembus 15 Persen Gara-gara Kenaikan Harga BBM
YouTube Kompas TV
Presiden Partai Buruh Said Iqbal bergabung dalam aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (6/9/2022). 

Dia menegaskan Pemerintah harus memberikan jaminan sosial, dibanding memberikan bantuan sosial.

Sejumlah mahasiswa membakar ban bekas saat mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (8/9/2022). Dalam aksinya, mereka menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM subsidi serta menuntut agar pemerintah menstabilkan harga bahan pokok imbas kenaikan harga BBM. Tribunnews/Jeprima
Sejumlah mahasiswa membakar ban bekas saat mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (8/9/2022). Dalam aksinya, mereka menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM subsidi serta menuntut agar pemerintah menstabilkan harga bahan pokok imbas kenaikan harga BBM. Tribunnews/Jeprima (TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

"Partai buruh di negara manapun pro subsidi, pro jaminan sosial. Jadi bukan bantalan bantalan. Apa itu bantalan. Kok orang miskin dimain-mainkan seolah-seolah angka," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Jumat (9/9/2022).

Said Iqbal menilai masyarakat tidak memerlukan bantalan sosial berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM.

Pemerintah, kata Said Iqbal, seharusnya tidak jadi menaikan harga BBM dan meningkatkan upah.

"Kita enggak butuh bantalan, yang kita butuhkan tidak ada kenaikan BBM, upah dinaikkan dan jaminan sosial diberikan. Daya beli ditingkatkan," tutur Said Iqbal.

Dalam kondisi menurunnya daya beli masyarakat, Said Iqbal menilai penyaluran BLT BBM tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.

"BLT dan bansos tidak ada manfaat ketika situasi daya beli sudah turun di 30 persen," pungkas Said Iqbal.

Seperti diketahui, Pemerintah resmi memberlakukan kenaikan harga BBM jenis Pertalite, Solar, dan Pertamax. Harga terbaru BBM itu mulai berlaku pada Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30.

Harga Pertalite naik dari sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, Solar naik dari sebelumnya Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas