Tribun Bisnis

Kenaikan Suku Bunga The Fed Bikin Harga Emas Merosot dan Masuk Zona Bearish

Harga emas dunia terus melemah hingga menuju level terendahnya, seiring dengan menguatnya sentimen dolar AS

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Kenaikan Suku Bunga The Fed Bikin Harga Emas Merosot dan Masuk Zona Bearish
FORBES
Harga emas dunia terus melemah hingga menuju level terendahnya, seiring dengan menguatnya sentimen dolar AS. Tren ini merupakan imbas sikap hawkish The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada awal pekan lalu. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTONHarga emas dunia terus melemah hingga menuju level terendahnya, seiring dengan menguatnya sentimen dolar AS.

Tren ini merupakan imbas sikap hawkish The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada awal pekan lalu.

Komoditi emas yang seharusnya dapat menjadi aset safe haven di tengah gejolak inflasi, justru perlahan tak lagi dilirik para investor dan mulai kehilangan pamornya lantaran dianggap sebagai aset investasi yang tidak lagi menguntungkan.

Kemerosotan harga emas mulai terjadi setelah bank sentral The Fed mengerek suku bunga acuan, demi mengatasi lonjakan laju inflasi di AS imbas invasi panas Rusia ke Ukraina.

Meski cara ini perlahan dapat menurunkan inflasi, namun sayangnya pengetatan moneter berpengaruh besar bagi keberadaan sejumlah aset investasi seperti saham dan emas.

Kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed sebanyak 4 kali dengan total 225 basis poin selama tiga kuartal di 2022, secara tidak langsung mengangkat naik nilai greenback sebanyak 16 persen menjadi 113,1890, tertinggi selama dua dekade.

Sikap agresif The Fed bahkan mengerek benchmark Treasury AS 10-tahun dari 1,5 persen pada awal tahun menjadi 3,77 persen.

Baca juga: Jumat 23 September 2022: Harga Emas Antam Melonjak Rp4.000 ke Level Rp941.000 per Gram

Karena nilai dolar dan benchmark Treasury AS cenderung naik di tengah inflasi, hal tersebut yang kemudian membuat para investor mulai berpaling untuk memindahkan aset investasi mereka.

Alasan ini yang membuat pesona dari logam kuning perlahan mulai meredup dan berpotensi masuk ke dalam fase bearish, terlebih saat ini nilai Emas yang dijual di pasar global telah turun hampir 20 persen dari puncaknya di Maret lalu.

"Investor tidak memiliki banyak selera untuk menahan emas di lingkungan saat ini," jelas Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING dikutip dari CNN International.

Baca juga: Harga Emas Antam Stagnan di Rp 937.000 Per Gram, Kamis 22 September 2022

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, anjlok 25,50 dolar AS atau 1,52 persen, menjadi 1,655,60 dolar AS per ounce pada penutupan perdagangan di Jumat (23/9/2022).

Sementara logam mulia lainnya, yakni perak untuk pengiriman Desember turun 70,7 sen atau 3,6 persen menjadi 18,91 dolar AS per ounce.

Penurunan serupa juga terjadi pada Platinum untuk pengiriman Oktober yang merosot 47,30 dolar AS atau 5,22 persen menjadi 858,70 dolar AS per ounce.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas