Tribun Bisnis

BBM Bersubsidi

Ekonom: Pemerintah Harus Menurunkan Harga BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mengalami Penurunan

penurunan harga minyak dunia ini akan berdampak terhadap Indonesia sebagai negara penghasil komoditas yang besar

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Ekonom: Pemerintah Harus Menurunkan Harga BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mengalami Penurunan
SS KompasTV
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dengan harga minyak mentah dunia yang terus mengalami penurunan, maka hal ini dinilai menjadi sinyal positif terhadap beban subsidi energi untuk menurun juga secara alamiah. 

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, dengan itu, pemerintah miliki kesempatan untuk kembali menurunkan harga BBM jenis subsidi kembali ke angka atau level sebelum terjadinya kenaikan. 

"Langkah ini harus dilakukan karena tidak fair, tidak adil, apabila harga minyak mentah turun, maka beban subsidi energinya juga menurun. Namun, pemerintah masih mempertahankan harga BBM yang mahal," ujarnya kepada Tribunnews.com, ditulis Selasa (27/9/2022).

Baca juga: Aksi Buruh Hingga Mahasiswa Tolak Kenaikan BBM di DPR, 4.400 Personel Gabungan TNI-Polri Disiagakan

Menurut dia, ada kemungkinan harga BBM Pertalite diturunkan lagi, setidaknya di bawah atau kembali ke level Rp 7.650 per liter. 

"Begitu juga dengan Solar bisa diturunkan lagi ke sekira Rp 5.000 per liter untuk jenis subsidi," kata Bhima. 

Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia ini akan berdampak terhadap Indonesia sebagai negara penghasil komoditas yang besar. 

Baik itu batu bara maupun sawit, lanjut Bhima, harus bersiap menghadapi adanya tren penurunan harga komoditas sejalan dengan harga minyak mentah yang mengalami penurunan. 

Baca juga: Revisi Perpres Tak Kunjung Ditandatangani Saat Pendaftar BBM Subsidi Terus Bertambah

Dia menambahkan, ini artinya sektor-sektor yang menjadi primadona akan berubah menjadi sektor yang mengalami kontraksi paling tajam. 

Inilah yang disebutnya sebagai roller coaster dari komoditas karena hanya dalam waktu singkat naik dan turun, sulit diperkirakan. 

"Pemerintah harus mempersiapkan skenario apabila sektor berbasis komoditas turun, maka yang harus didorong adalah sektor-sektor industri pengolahan ataupun sektor ekonomi digital. Dengan demikian, penurunan harga komoditas tidak langsung membuat perekonomian Indonesia mengalami kontraksi cukup dalam," pungkasnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas