Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Implementasi Zero ODOL Dikhawatirkan Picu Kenaikan Harga Pangan di DKI Jakarta

Kebijakan Zero ODOL pada tahun depan bisa memicu berkurangnya pasokan komoditi ke Pasar Induk Kramat Jati.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Implementasi Zero ODOL Dikhawatirkan Picu Kenaikan Harga Pangan di DKI Jakarta
dok. Jasa Marga
Operasi penertiban truk medium duty pelanggar aturan ODOL oleh Jasa Marga Bersama Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR dan Korlantas POLRI di jalan tol. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kebijakan Zero ODOL atau Over Dimension Over Load yang rencananya yang mulai diimplementasikan awal 2023 dikhawatirkan mengganggu pasokan sembako warga DKI Jakarta.

Wakil Manajer Pasar Induk Kramat Jati, Harnoto mengatakan, kebijakan Zero ODOL bisa memicu berkurangnya pasokan komoditi ke Pasar Induk Kramat Jati.

"Kurangnya pasokan ini akan bisa memicu kenaikkan harga sehingga akan makin meyulitkan warga mendapatkan sembako dan komoditi sayur-mayur dan lainnya," kata Hartono dalam keterangannya, Senin (12/12/2022).

Baca juga: Bulan Depan Mulai Diterapkan Kebijakan Bebas Kendaraan ODOL, Pengusaha: Akan Chaos

Apalagi, kata dia mengingat barang-barang sembako itu didatangkan dari daerah-daerah yang umumnya menggunakan truk-truk ODOL.

Senada, peneliti ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda mengatakan, kebijakan Zero ODOL ini pasti akan diikuti dengan kenaikan harga bahan logistik.

"Hal itu mengingat kelebihan muatan akan menjadi pengurang biaya pengangkutan. Jadi, jika pengangkutan dikurangi, ya biayanya akan mahal,” katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Sejumlah pengemudi truk merespon kebijakan Zero ODOL ini dan khawatir akan kehilangan pekerjaan.

Sopir truk asal Palembang, Jhonny yang tengah membawa komoditas nanas dari Palembang ke Pasar Kramat Jati mengatakan, jika bak truk yang dibawanya itu dipotong, muatan yang dibawa juga pasti akan berkurang.

“Masalahnya, para petani atau pengirim barang mau tidak jika ongkosnya tidak dikurangi? Bisa dipastikan mereka tidak akan mau dan pasti akan mengurangi ongkos kirimnya karena menganggap barang yang dibawa muatannya juga berkurang setengahnya,” ucap Jhonny.

Terkait alasan pemerintah menerapkan Zero ODOL karena alasan kecelakaan dan keselamatan, para sopir truk ini mengatakan bahwa tidak ada satu pun sopir yang mau celaka.

Malah, kata mereka, sebelum berangkat kerja, keluarga juga ikut mendoakan keselamatan mereka. Menurutnya mereka, kecelakaan yang terjadi itu hanya sebuah musibah saja.

“Di perjalanan, kami juga selalu berhati-hati saat membawa truk. Kami juga tidak mau celaka kok,” kata para sopir truk ini.

Kebijakan Zero ODOL ini juga akan berdampak kepada para pedagang yang ada di Pasar Induk Kramat Jati.

“Apa para pedagang di sini juga mau harga komoditas yang mereka beli dinaikkan harganya oleh para petani?

Misalnya harga nanas yang tadinya Rp 3 ribu per buah dinaikkan menjadi Rp 10 ribu. Sayur-mayur yang tadinya Rp 2.000 perikat menjadi Rp 10 ribu. Pasti tidak mau juga membelinya kan?” katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas