Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Ekonom Aviliani Perkiraan Suku Bunga Baru Akan Turun di 2024

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) membeberkan berbagai tantangan global untuk sektor keuangan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Ekonom Aviliani Perkiraan Suku Bunga Baru Akan Turun di 2024
Yanuar Riezqi Yovanda
Ekonom Senior Indef Aviliani 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) membeberkan berbagai tantangan global untuk sektor keuangan.

Ekonom senior Indef Aviliani mengatakan, tantangan yang pertama adalah penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed diperkirakan baru mulai terjadi di 2024.

"Kita bicara tantangan global pastinya adalah kebijakan daripada suku bunga, di mana kalau kita lihat The Fed sendiri kelihatannya walaupun kenaikan suku bunganya itu relatif masih tidak terlalu signifikan. Tetapi, kelihatannya suku bunga ini baru akan turun di tahun 2024, dengan sudah mulai melandai di kuartal III maupun IV (2023)" ujarnya dalam diskusi publik “Tantangan Ekonomi di Tahun Pemilu”, Kamis (2/3/2023).

Baca juga: Bursa Saham Asia Anjlok Terbebani Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed

Suku bunga Amerika masih di level tinggi dikarenakan ternyata kinerja ekonomi Negeri Paman Sam itu berubah cukup drastis dari sisi inflasi yang mulai turun.

"Hanya di Eropa yang masih kelihatannya inflasinya cukup tinggi," kata Aviliani.

Selanjutnya, terkait perkembangan geopolitik saat ini, belum diketahui kapan berakhirnya ketegangan antara Ukraina sama Rusia.

Rekomendasi Untuk Anda

"Masih terus ya, kita nggak tahu karena mereka saja nggak tahu, apalagi kita sebagai penonton. Jadi, ini (perang di Ukraina) kita anggap masih akan terjadi dalam jangka waktu yang mungkin cukup panjang," tutur dia.

Kemudian tantangan yang ketiga, yakni terkait sektor fiskal dan perdagangan, di mana mengalami penurunan karena memang di 2023 ini negara maju maupun berkembang sudah tidak ada lagi dana pemulihan ekonomi.

"Jadi, sudah selesai (dana pemulihan ekonomi), bahkan kita juga sudah kembali ke (defisit) 3 persen. Jadi, tidak ada dana pemulihan ekonomi nasional lagi, sehingga perdagangan mengalami penurunan terutama di global karena dianggap akan terjadi resesi dan inflasi masih sangat tinggi," pungkas Aviliani.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas