Bapanas Buka Opsi Turunkan Harga Gula Konsumsi di Ritel Modern
Bapanas membuka peluang menurunkan menurunkan harga gula konsumsi di ritel modern.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Choirul Arifin
Laporan wartawan Tribunnews.com, Endrapta Pramudhiaz
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) membuka peluang menurunkan menurunkan harga gula konsumsi di ritel modern.
Sebelumnya Bapanas sudah melakukan penyesuaian harga gula konsumsi menjadi sebesar Rp16 ribu per kilogram hingga Rp17 ribu per kilogram di ritel modern.
Mereka menaikkan harga gula konsumsi karena adanya kenaikan harga gula di dalam negeri maupun internasional.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan, ada kemungkinan harga gula konsumsi ini bisa turun, asalkan produksi dalam negeri bisa meningkat.
"Bisa aja (harga gula konsumsi turun). Tergantung harga di luar. Makanya produksi dalam negeri ditingkatkan," katanya kepada Tribunnews, Sabtu (11/11/2023).
Ia mengatakan, jika sekarang produksi dalam negeri kurang, Indonesia akan selalu bergantung dengan impor. Kondisi kebergantungan akan impor ini diperparah dengan dolar yang sedang menguat.
Di tengah kondisi dolar yang sedang menguat, rupiah menjadi melemah, harga gula konsumsi akan terus berada di posisi yang tinggi karena ketergantungan Indonesia akan impor.
Baca juga: Jaga Stabilitas, Pemerintah Berlakukan Relaksasi Harga Gula Konsumsi Rp 16.000 per Kg
"Kalau kurs (1 dolar AS) dulu Rp13.500, lebih murah. Kalau sekarang sudah Rp15.500-Rp15.600 ya lebih mahal. Kemarin Rp16.000. Lebih mahal lagi. Itulah jeleknya kalau kita ketergantungan impor," ujar Arief.
Saat ini, Arief mengatakan Bapanas tengah menanti kapan produksi gula akan meningkat.
Ia berharap Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian bisa mendorong petani tebu untuk menggenjot produksi.
Baca juga: Alasan Bapanas Hanya Berlakukan Relaksasi Harga Gula Rp16 Ribu di Ritel Modern
"Ini saya lagi menunggu kapan produksi dalam negerinya tinggi. Produksi dalam negeri ini kan kesempatan petani tebu, pabrik-pabrik, mesti didorong sama Ditjebun Kementerian Pertanian untuk produksi tebu," ujarnya.
Akibat El Nino, diperkirakan terjadi potensi penurunan produksi dari estimasi awal 2,6 juta ton menjadi sekitar 2,2 – 2,3 juta ton.