Indonesia Kurang Atraktif, Investor Lebih Tertarik ke India
Negara-negara maju mencari lokasi baru untuk mengembangkan industrinya. Relokasi industri dari satu negara ke negara lain saat ini jadi tren.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Negara-negara maju mencari lokasi baru untuk mengembangkan industrinya. Relokasi industri dari satu negara ke negara lain saat ini sedang menjadi tren.
Indonesia tidak ketinggalan berupaya untuk mendapatkan kuota investasi baru dari relokasi industri tersebut. Akan tetapi, negara lain seperti Vietnam, Thailand dan India juga berebut hal yang sama.
Baca juga: Kemenperin Dukung Pengawasan Ketat di PLB dan Kawasan Berikat untuk Lindungi Industri Dalam Negeri
Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Darwoto menerangkan, para calon investor yang sedang mencari lokasi investasi baru lebih tertarik ke India hingga Vietnam.
"Kolega kita yang dari Jepang, kita tanya apa bedanya Vietnam, Indonesia dan India? Dia bilang, India is more attractive. Artinya India memberikan sesuatu yang bahkan bisa diberikan di muka," tutur Darwoto dalam acara diskusi Bisnis Indonesia "Beragam Teror Bagi Investor", Jakarta, Rabu (21/5/2025).
Menurutnya, dengan keberanian India memberikan insentif di muka membuat Jepang lebih condong ke mereka, meskipun para eksekutif perusahaan Jepang lebih ingin menanamkan investasinya di Indonesia.
"Sebenarnya maunya Indonesia, karena dekat dan budaya juga nggak beda jauh. Kalau India jauh dan budaya juga sangat berbeda," ucap Darwoto.
Baca juga: Pemerintah Diminta Evaluasi Insentif Mobil LCGC dan Hybrid untuk Selamatkan Penjualan
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang meminta untuk memakai rumus ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), Indonesia berpeluang merebut relokasi tersebut.
Asalkan beberapa hambatan seperti aksi premanisme organisasi masyarakat, kebijakan singkat bisa dievaluasi dan menjadi lebih baik.
"Contoh dari negara-negara yang lain, kita bisa ikuti arahan Presiden Prabowo dengan amati, tiru dan modifikasi, sehingga capaian pertumbuhan ekonomi yang tadi disampaikan akan menjadi 8 persen," ungkapnya.
Baca tanpa iklan