Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Indonesia Kurang Atraktif, Investor Lebih Tertarik ke India

Negara-negara maju mencari lokasi baru untuk mengembangkan industrinya. Relokasi industri dari satu negara ke negara lain saat ini jadi tren.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
zoom-in Indonesia Kurang Atraktif, Investor Lebih Tertarik ke India
Lita Febriani/Tribunnews.com
INSENTIF INDIA - Diskusi Bisnis Indonesia "Beragam Teror Bagi Investor", Jakarta, Rabu (21/5/2025). Investor lebih tertarik ke India karena negara tersebut memberikan insentif di depan sebelum masuk. (Tribunnews.com/Lita Febriani). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Negara-negara maju mencari lokasi baru untuk mengembangkan industrinya. Relokasi industri dari satu negara ke negara lain saat ini sedang menjadi tren.

Indonesia tidak ketinggalan berupaya untuk mendapatkan kuota investasi baru dari relokasi industri tersebut. Akan tetapi, negara lain seperti Vietnam, Thailand dan India juga berebut hal yang sama.

Baca juga: Kemenperin Dukung Pengawasan Ketat di PLB dan Kawasan Berikat untuk Lindungi Industri Dalam Negeri

Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Darwoto menerangkan, para calon investor yang sedang mencari lokasi investasi baru lebih tertarik ke India hingga Vietnam.

"Kolega kita yang dari Jepang, kita tanya apa bedanya Vietnam, Indonesia dan India? Dia bilang, India is more attractive. Artinya India memberikan sesuatu yang bahkan bisa diberikan di muka," tutur Darwoto dalam acara diskusi Bisnis Indonesia "Beragam Teror Bagi Investor", Jakarta, Rabu (21/5/2025).

Menurutnya, dengan keberanian India memberikan insentif di muka membuat Jepang lebih condong ke mereka, meskipun para eksekutif perusahaan Jepang lebih ingin menanamkan investasinya di Indonesia.

"Sebenarnya maunya Indonesia, karena dekat dan budaya juga nggak beda jauh. Kalau India jauh dan budaya juga sangat berbeda," ucap Darwoto.

Baca juga: Pemerintah Diminta Evaluasi Insentif Mobil LCGC dan Hybrid untuk Selamatkan Penjualan 

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang meminta untuk memakai rumus ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), Indonesia berpeluang merebut relokasi tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Asalkan beberapa hambatan seperti aksi premanisme organisasi masyarakat, kebijakan singkat bisa dievaluasi dan menjadi lebih baik.

"Contoh dari negara-negara yang lain, kita bisa ikuti arahan Presiden Prabowo dengan amati, tiru dan modifikasi, sehingga capaian pertumbuhan ekonomi yang tadi disampaikan akan menjadi 8 persen," ungkapnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Atas