Selamatkan Industri, Kemenperin Dorong Pembangunan Dapur MBG dari Baja Dalam Negeri
Adanya tarif 50 persen impor AS, baja impor dari China bisa menyasar negara-negara selain Amerika Serikat, terutama di Asia Tenggara.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mendorong agar baja dari dalam negeri digunakan untuk konstruksi beberapa pembangunan dalam program Presiden Prabowo Subianto.
Contohnya seperti pembangunan dalam program 3 juta rumah dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau yang biasa disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Febri mendorong agar baja hasil produksi lokal digunakan dalam pembangunan di program-program tersebut.
"Kita berharap bahwa logam konstruksi untuk membangun 3 juta rumah atau juga untuk membuat dapur SPPG untuk program MBG itu dari logam atau industri baja atau produksi dalam negeri," katanya di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (30/9/2025).
Baca juga: Dukung Pemerintah Kurangi Impor, Ini Usulan Forum Industri Baja Domestik
Febri menegaskan, belanja pemerintah sebaiknya mengutamakan produk dalam negeri.
"Itu merupakan bentuk sebuah perlindungan juga untuk industri dalam negeri, terutama industri baja," ujar Febri.
Namun, ia mengakui bahwa upaya menyelamatkan industri baja tidak bisa hanya mengandalkan Kemenperin.
Penyelamatan industri baja juga berkaitan dengan kebijakan dari kementerian/lembaga lain. Ia memastikan akan berkolaborasi untuk mencarikan instrumen perlindungan bagi industri baja.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), Muhamad Akbar, mengungkap dampak tarif impor baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap industri baja nasional.
Kebijakan Donald Trump menjatuhkan tarif resiprokal sebesar 19 persen untuk Indonesia ditambah bea masuk hingga 50 persen untuk produk baja dari negara manapun yang masuk Amerika Serikat.
Kondisi itu dinilai menjadi ancaman bagi industri baja lokal.
Sebab, dengan tarif 50 persen tersebut, baja impor dari China bisa menyasar negara-negara selain Amerika Serikat, terutama di Asia Tenggara.
Negara-negara di Asia Tenggara ini disebut Muhammad Akbar memiliki proteksi yang lemah. Ini lah yang menyebabkan kekhawatiran terhadap potensi akan jatuhnya industri baja RI
Baca tanpa iklan