BPDP akan Bawa Komoditas Unggulan Indonesia ke Panggung Global
Sawit, kakao, dan kelapa Indonesia kini tak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari cerita dan nilai ekonomi yang menyertainya.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- BPDP komitmen terus membawa komoditas unggulan Indonesia ke panggung global
- BPDP juga memberi ruang bagi pelaku UMKM mitra binaan, seperti Jayanti Batik dan Rumah Tamadun
- BPDP berharap partisipasinya di TEI 2025 dapat membuka peluang ekspor baru
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Divisi Kerja Sama Kelembagaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Aida Fitria, menegaskan komitmen lembaganya terus membawa komoditas unggulan Indonesia ke panggung global.
Caranya dengan pendekatan yang berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tambah tinggi.
“Kami ingin menunjukkan ke dunia bahwa sawit, kelapa, dan kakao Indonesia tidak hanya kuat secara volume, tetapi juga punya cerita, kreativitas, dan nilai ekonomi yang inklusif,” ujar Aida saat ditemui di booth BPDP ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, di ICE BSD City, Tangerang belum lama ini.
Digelar pada 15–19 Oktober 2025, Trade Expo Indonesia mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon mitra internasional dan BPDP hadir bukan sekadar peserta pameran, tetapi motor penggerak promosi global bagi industri sawit, kakao, dan kelapa Indonesia.
Baca juga: BPDP Dorong UMKM Sawit Kembangkan Ekonomi Kreatif di Inacraft 2025
Aida menilai bahwa sawit, kakao, dan kelapa Indonesia kini tak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari cerita dan nilai ekonomi yang menyertainya.
Dalam pameran ini, BPDP menggandeng berbagai asosiasi strategis, seperti GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia); APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia); APOLIN (Asosiasi Produsen Oleokimia Indonesia), DEKAINDO (Dewan Kakao Indonesia) dan HIPKI (Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia)
Menurut Aida, kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi, yang menjadi fondasi penting dalam memperkuat rantai nilai perkebunan nasional.
Selain menampilkan potensi industri besar, BPDP juga memberi ruang bagi pelaku UMKM mitra binaan, seperti Jayanti Batik dan Rumah Tamadun.
Keduanya memamerkan karya berbasis bahan baku perkebunan yang dikemas dengan sentuhan budaya, membuktikan bahwa komoditas sawit, kakao, dan kelapa juga dapat hadir dalam bentuk produk kreatif bernilai ekspor.
“Melalui UMKM, kami ingin tunjukkan bahwa perkebunan tidak hanya bicara ekonomi skala besar, tapi juga tentang kearifan lokal dan kreativitas masyarakat yang mengolah hasil bumi menjadi karya,” jelas Aida.
Salah satu agenda menarik di booth BPDP adalah talkshow bertema “Peluang Ekspor Sawit dan Kakao” yang menghadirkan Fadhil Hasan (GAPKI) dan Yeni Wati (DEKAINDO).
Para pembicara menyoroti pentingnya keberlanjutan, inovasi produk, dan efisiensi rantai pasok agar komoditas perkebunan Indonesia dapat terus bersaing di pasar global.
Aida menambahkan, keberlanjutan kini menjadi bahasa universal perdagangan dunia.
“Ketika kita mampu menunjukkan bahwa produk kita ramah lingkungan dan memberi manfaat bagi masyarakat, kepercayaan global akan tumbuh dengan sendirinya,” tegasnya.
BPDP berharap partisipasinya di TEI 2025 dapat membuka peluang ekspor baru, investasi strategis, serta kemitraan internasional yang menguntungkan bagi petani dan pelaku usaha perkebunan.
Baca tanpa iklan