39 UMKM Majalengka Dilatih Olahan Pisang dan Promosi Digital Berbasis AI
39 UMKM Majalengka bikin donat pisang lumer pakai AI, emak-emak belajar digital marketing, bikin penasaran hasil usaha mereka!
Penulis:
willy Widianto
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- 39 UMKM Majalengka belajar olahan pisang lumer, penuh harapan ekonomi keluarga.
- AI hadir di desa, mengubah cara emak-emak memasarkan produk lokal.
- Dari dapur sederhana, lahir mimpi besar membuka peluang kerja dan kemandirian.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sebanyak 39 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal berbasis teknologi digital.
Kegiatan bertajuk Workshop Komoditas Lokal Unggulan: Inovasi Produk Olahan Pisang ini digelar di Balai Desa Baturuyuk, Jumat (14/11/2025), oleh Yayasan Indonesia Setara (YIS) bekerja sama dengan Rumah SandiUno Indonesia (RSI) dan UMKM Sahabat Sandi.
Pelatihan difokuskan pada keterampilan membuat donat dan bolu pisang lumer menggunakan bahan sederhana yang mudah diperoleh. Selain itu, peserta diperkenalkan pada penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung promosi digital dan strategi pemasaran produk.
Founder YIS, Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan bahwa yayasan tersebut berdiri sejak 2011 dengan semangat kesetaraan di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Dalam siaran tertulis, ia menekankan pentingnya pelatihan yang inklusif dan berdampak langsung bagi kelompok rentan.
“Fokus kami pada anak muda, disabilitas, dan perempuan. Melalui pelatihan ini, kami ingin emak-emak menjadi lebih mandiri secara ekonomi, tidak bergantung pada suami, dan bisa buka lapangan kerja,” ujar Sandiaga.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan produksi, tetapi juga pemanfaatan teknologi untuk membuka peluang usaha.
“Hari ini mereka tidak hanya belajar membuat donat dan bolu pisang lumer, tetapi juga cara menggunakan AI agar langsung bisa open pre-order,” tambahnya.
Ketua UMKM Sahabat Sandi Bandung Raya, Dewi Trianawati, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar peserta dapat langsung mempraktikkan keterampilan yang diperoleh.
“Kami memilih menu yang fleksibel dan bisa dimodifikasi sesuai selera pasar. Peserta juga diajarkan membuat konten promosi dengan aplikasi ChatGPT dan ditantang untuk langsung membuka pre-order di hari yang sama,” ujarnya.
Baca juga: Soal Cukai Popok dan Tisu Basah, Menkeu Purbaya Tegaskan Belum Akan Diterapkan Dalam Waktu Dekat
Sejumlah peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini membantu mereka memahami cara membuat produk olahan pisang yang lebih menarik sekaligus dapat dipasarkan melalui media sosial. Mereka berharap usaha kecil yang dijalankan bisa lebih dikenal masyarakat dan menambah penghasilan keluarga.
Setelah sesi tatap muka, peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama tiga minggu. Program ini bertujuan memfasilitasi diskusi antara peserta dan pelatih, sekaligus memberikan bimbingan langsung dalam menghadapi tantangan usaha.
“Peserta akan berlatih membuat konten promosi, mengoptimalkan strategi digital marketing, serta menerapkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan. Mereka juga dapat berbagi pengalaman dan mendapatkan masukan konstruktif,” tambah Dewi.
Majalengka sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pisang di Jawa Barat.
Menurut kajian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Majalengka, sektor pertanian dan UMKM merupakan penopang utama ekonomi daerah, bahkan mampu menjaga pertumbuhan positif saat pandemi.
Dengan memadukan keterampilan produksi dan teknologi promosi, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing UMKM lokal, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas melalui platform digital.
Baca tanpa iklan