INDEF Prediksi 2026 Penuh Risiko, Namun Jadi Ruang Strategis bagi Korporasi
ketidakpastian dunia akan semakin kuat dipengaruhi eskalasi geopolitik, menguatnya proteksionisme, serta volatilitas harga energi dan pangan
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Memasuki 2026, INDEF menyebut ekonomi Indonesia berada dalam tekanan akibat geopolitik, proteksionisme, serta volatilitas harga energi dan pangan.
- Perusahaan diminta memperkuat analisis, berhati-hati dalam ekspansi, dan mengambil keputusan berbasis data untuk menjaga daya saing.
- INDEF menilai tahun 2026 bukan hanya penuh risiko, tetapi juga momentum korporasi memperkuat value creation.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki 2026, ekonomi Indonesia diprediksi bergerak dalam lanskap global yang semakin tidak stabil.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, menyampaikan ketidakpastian dunia akan semakin kuat dipengaruhi eskalasi geopolitik, menguatnya proteksionisme, serta volatilitas harga energi dan pangan yang berpotensi menekan biaya produksi secara berkelanjutan.
Baca juga: Misbakhun Soroti Ekonomi Triwulan III: Pertumbuhan Solid, Fondasi Belum Merata
“Menjaga pertumbuhan 5 persen tidak cukup hanya dengan menambah injeksi fiskal. Kunci utamanya berada pada kualitas eksekusi anggaran, stabilitas nilai tukar, dan konsistensi kebijakan moneter,” ujar Rizal dalam paparan keynote speech pada Indonesia Business Leadership Forum ‘Navigating Corporate Leadership Opportunities 2026’ di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Forum yang digelar Kubik Leadership ini dihadiri puluhan komisaris dan direktur perusahaan nasional maupun multinasional sebagai ruang strategis untuk merespons tantangan bisnis lintas industri pada tahun 2026.
Rizal menambahkan bahwa sektor manufaktur kini menghadapi tingkat persaingan global yang jauh lebih ketat, sementara tekanan biaya dan produktivitas ikut mempersulit daya saing industri.
Karena itu, menurutnya, perusahaan perlu memastikan arah ekspansi dilakukan secara terukur dan berbasis data guna menjaga profitabilitas jangka panjang.
Baca juga: Menkop: Ekosistem Minyak Jelantah Berbasis Koperasi Bawa Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
“Tahun 2026 menuntut ketajaman analisis, kehati-hatian dalam ekspansi, serta pengambilan keputusan berbasis data. Situasi global yang menekan bisa menjadi momentum memperkuat value creation dan posisi kompetitif perusahaan,” tegasnya.
Human Capital dan Budaya Organisasi Jadi Fondasi Transformasi
Dalam sesi best practice sharing, Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso, menyoroti tiga isu utama dalam pengembangan sumber daya manusia: organisasi, people, dan culture.
Ia menjelaskan, Astra menerapkan Astra People Strategy dengan fokus pada agile organization, peningkatan kualitas talenta, serta penguatan budaya perusahaan.
Baca juga: Harga Ekspor Beras Dunia Ambruk, Pakar Ekonomi UI: Karena Indonesia Tak Lagi Membeli
Astra telah menyiapkan organizational agility initiatives dan expert track initiatives untuk menciptakan organisasi yang lebih lincah. Sementara itu, pengembangan kompetensi dilakukan melalui program Astra Future Leaders.
“Fondasi budaya perusahaan juga diperkuat melalui Astra Values yang bersumber dari Catur Dharma,” ujarnya.
Baca tanpa iklan