Kinerja Sektor IKFT Positif Sepanjang 2025, Utilisasi Industri 60 Persen
Sektor IKFT mencatat pertumbuhan lebih tinggi di triwulan III 2025, yaitu 5,92 persen, dengan kontribusi 3,88 persen terhadap PDB nasional.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Sektor Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil menjadi sebagai salah satu pendorong utama stabilitas manufaktur nasional sepanjang 2025.
- Sektor IKFT mencatat pertumbuhan lebih tinggi di triwulan III 2025, yaitu 5,92 persen, dengan kontribusi 3,88 persen terhadap PDB nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan sektor Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) kian tangguh dan menjadi sebagai salah satu pendorong utama stabilitas manufaktur nasional sepanjang 2025.
Data Kemenperin menunjukkan pada triwulan III 2025, Industri Pengolahan Nonmigas tumbuh 5,58 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,04 persen.
Sektor IKFT mencatat pertumbuhan lebih tinggi di triwulan III 2025, yaitu 5,92 persen, dengan kontribusi 3,88 persen terhadap PDB nasional.
Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor IKFT periode Januari-Agustus 2025 mencapai 35,25 miliar dolar AS, sementara impor berada pada 32,31 miliar dolar AS.
Utilisasi kapasitas industri IKFT berada pada kisaran 60 persen, didorong oleh kebijakan hilirisasi terutama pada industri kimia berbasis migas dan bahan galian bukan logam.
Sementara itu, realisasi investasi pada Januari-September 2025 mencapai Rp 142,15 triliun, meningkat signifikan dari Rp 116,54 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap 6,7 juta tenaga kerja hingga Februari 2025 atau sekitar 4,6 persen dari total tenaga kerja nasional.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Taufiek Bawazier menyampaikan, sektor IKFT tetap menunjukkan daya tahan tinggi di tengah dinamika global dan mampu mempertahankan kontribusi signifikan terhadap industri pengolahan nasional.
"Optimisme pelaku industri memberi sinyal bahwa kita berada pada jalur yang tepat. Tugas pemerintah adalah memastikan ekosistemnya semakin kondusif agar investasi, ekspor, dan produktivitas dapat terus meningkat," tutur Taufiek dalam keterangan, Sabtu (29/11/2025).
Meski menunjukkan performa kuat, di tahun depan, sejumlah tantangan siap menghadang IKFT. Tingginya impor bahan baku kimia masih menjadi pekerjaan rumah, ditambah dengan ketergantungan sektor farmasi terhadap Active Pharmaceutical Ingredients (API).
Baca juga: Ekspor Terus Menggeliat, Ini Strategi ASAKI Genjot Industri Keramik Nasional
Industri tekstil juga masih menghadapi tekanan akibat masuknya produk murah yang melemahkan produksi dalam negeri. Selain itu, potensi rerouting produk kaca dari berbagai negara menambah kerentanan bagi industri lokal.
Pemerintah menilai tantangan tersebut harus dijawab dengan strategi menyeluruh, mulai dari penguatan regulasi, peningkatan kualitas produk, harmonisasi standar, hingga perluasan akses pasar.
Baca juga: Industri Keramik Sudah Rumahkan Karyawannya Imbas Pasokan HGBT Tersendat
"Kunci kita adalah memperkuat struktur industri dari hulu sampai hilir. Mulai dari kemandirian bahan baku, modernisasi mesin, hingga percepatan transformasi digital dan ekonomi sirkular," ucap Taufiek.