Sinyal Penguatan Ekonomi Muncul, Strategi Pemerintah Jelang 2026
Penguatan berbagai indikator tersebut mempertebal keyakinan pemerintah terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2026
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Prospek perekonomian Indonesia menunjukkan arah konstruktif memasuki akhir tahun
- Satu dari sekian indikatornya adalah di sektor manufaktur
- Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 pun disinyalir positif
TRIBUNNEWS.COM - Memasuki akhir tahun, prospek perekonomian Indonesia menunjukkan arah yang semakin konstruktif.
Berbagai indikator utama menegaskan adanya penguatan ekonomi yang berarti, menjadi pijakan yang solid untuk menghadapi 2026.
Optimisme ini juga tidak terlepas dari orientasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai mampu mendorong pemulihan, menjaga stabilitas, sekaligus mempercepat laju pertumbuhan nasional.
Indikator terkini memperlihatkan kinerja ekspansif yang konsisten, khususnya di sektor manufaktur.
PMI Manufaktur tercatat naik ke level 53,3 pada November 2025, menandai fase ekspansi selama empat bulan berturut-turut, yang ditopang oleh menguatnya permintaan domestik.
Sejalan dengan itu, Indeks Keyakinan Konsumen mencapai 121,2, mencerminkan meningkatnya optimisme masyarakat.
Aktivitas konsumsi juga tetap terjaga, tercermin dari Mandiri Spending Index Mid yang berada di angka 312,8. Dari sisi investasi, sentimen positif pelaku pasar turut tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa penguatan berbagai indikator tersebut mempertebal keyakinan pemerintah terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2026.
“Dengan target APBN, pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen kami pandang sebagai baseline. Kami melihat tekanan dari sisi eksternal sudah mereda dan berpotensi berubah menjadi faktor pendorong,” ujar Airlangga dalam keterangannya.
Airlangga menambahkan, apabila realisasi investasi tahun ini dapat mencapai Rp1.900 triliun sesuai rencana, maka tambahan dorongan dari investasi lanjutan serta peran Danantara diharapkan mampu meningkatkan potensi pertumbuhan ke depan.
Untuk menjaga kesinambungan momentum, pemerintah menyiapkan beragam langkah strategis.
Sektor pariwisata diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama pada kuartal IV 2025 hingga awal 2026, dengan estimasi kunjungan 1,36 juta wisatawan mancanegara serta lebih dari 120 juta perjalanan wisata domestik selama periode libur akhir tahun.
Baca juga: Strategi Hilirisasi Industri Diyakini Bisa Topang Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Upaya tersebut diperkuat melalui program promosi dan pemberian insentif transportasi.
Dalam kerangka fiskal, APBN 2026 akan diarahkan pada delapan fokus utama, antara lain ketahanan pangan dan energi, program Makan Bergizi Gratis, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, penguatan UMKM, pertahanan semesta, serta percepatan investasi dan perdagangan internasional.
Pemerintah juga mengintensifkan diplomasi ekonomi melalui berbagai forum global seperti ASEAN, APEC, G20, COP30, hingga proses negosiasi perjanjian dagang dan keanggotaan internasional.
Pada agenda transformasi jangka panjang, percepatan ekonomi hijau menjadi perhatian utama.
Sejumlah inisiatif yang akan dikembangkan meliputi pembangunan Green Super Grid sepanjang 70.000 kilometer, pemanfaatan teknologi CCS hingga 600 gigaton, serta tujuh proyek waste-to-energy yang ditargetkan memasuki tahap konstruksi awal pada tahun depan.
“Selain itu, digitalisasi akan menjadi mesin pertumbuhan baru yang mampu mendorong perekonomian secara eksponensial,” tegas Airlangga.
Pengembangan UMKM, industri kendaraan listrik, serta program magang nasional bagi 100.000 lulusan baru juga menjadi prioritas.
Implementasi digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS yang telah menjangkau 57 juta konsumen dan 39 juta pelaku usaha diharapkan memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisi rupiah di kancah global.
Dunia Usaha
Optimisme serupa disampaikan kalangan dunia usaha.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang melampaui 5,5 persen pada 2026.
“Kami optimistis, sinergi pemerintah dan dunia usaha dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen pada 2026, dan hasilnya benar-benar mencerminkan optimisme,” ujarnya.
Sementara itu, hasil survei Adidaya Institute menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran.
Managing Director Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, mengungkapkan bahwa mayoritas responden menilai pemerintahan saat ini memiliki komitmen kuat terhadap tata kelola yang bersih.
“Sebanyak 78,5 persen responden menyatakan keyakinan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran bebas dari praktik korupsi,” jelasnya.
Selain itu, 72,2 persen responden juga percaya pemerintahan ini terbebas dari praktik kolusi. Analis politik Arif Nurul Imam menambahkan bahwa tingkat kebebasan sipil masih terjaga dengan baik.
“Survei ini mencatat 76,5 persen responden menilai kebebasan berpendapat di era Presiden Prabowo-Gibran tetap tinggi,” katanya.
Ia juga menyoroti stabilitas politik yang dinilai solid, dengan tingkat kepercayaan mencapai sekitar 73,1 persen.
Dengan fondasi ekonomi yang kian menguat, arah kebijakan yang progresif, serta tingkat kepercayaan publik yang tinggi, tahun 2026 dipandang sebagai fase krusial untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
(Tribunnews.com/ Chrysnha)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.