Wamenperin Faisol Riza: Industri Tekstil akan Bersinar Kembali di 2026
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza optimistis industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional akan kembali bersinar pada 2026
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Pailitnya Sritex menjadi peringatan serius sekaligus membuka mata banyak pihak bahwa industri TPT bakal menghadapi tahun yang berat sepanjang 2025
- Wamenperin Faisol Riza meyakini industri tekstil nasional akan menunjukkan kebangkitannya pada 2026
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza optimistis industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional akan kembali bersinar pada 2026.
Faisol awalnya mengenang peristiwa besar yang sempat mengguncang industri tekstil nasional pada 2024.
Peristiwa tersebut adalah saat saat salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang pada Oktober 2024.
Baca juga: Senyum Lebar Menperin Saat Ditanya Soal Insentif Otomotif di 2026
"Kita masih ingat bahwa persis minggu pertama pemerintahan Presiden Prabowo, kita dikejutkan oleh satu kasus besar yang diputuskan oleh pengadilan di Jawa Tengah, di mana Sritex dinyatakan pailit," katanya di kantor Kemenperin, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2025).
Menurut dia, pailitnya Sritex menjadi peringatan serius sekaligus membuka mata banyak pihak bahwa industri TPT bakal menghadapi tahun yang berat sepanjang 2025.
Pada kondisi tersebut, kata Faisol, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita langsung menyusun berbagai langkah agar industri TPT dalam negeri bisa bangkit dari keterpurukan atau keluar dari kondisi sunset industry.
Berkaca dari upaya-upaya tersebut, Faisol meyakini industri tekstil nasional akan menunjukkan kebangkitannya pada 2026.
Baca juga: Menperin Agus Gumiwang Kenang Polemik dengan Apple: Alot, Diserang Kanan Kiri Atas
"Hari ini kita umumkan bahwa industri TPT juga tumbuh, tidak jadi sunset, tapi justru sekarang akan bersinar kembali di tahun 2026," ujar Faisol.
Dalam kesempatan sama, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier menyampaikan bahwa pemerintah telah menjalankan sejumlah program untuk menopang industri tekstil sepanjang 2025.
Program tersebut mencakup tahapan remedy (perbaikan), recovery (pemulihan), stabilisasi, hingga growth (pertumbuhan). Saat ini, industri TPT disebut telah memasuki tahap akhir pemulihan.
"Jadi, at the end of the sunset, the beginning of the rising textile industry, khusus 2026," kata Taufiek.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pada triwulan I hingga III 2025, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,28 persen. Kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 0,97 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja di industri tekstil dan pakaian jadi per Agustus 2025 tercatat turun tipis 0,05 persen menjadi 3,96 juta orang.
Sementara itu, kinerja ekspor industri tekstil selama Januari hingga Oktober 2025 meningkat 0,18 persen dengan nilai mencapai 10,03 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Adapun realisasi investasi di sektor tekstil pada triwulan I hingga III 2025 tercatat sebesar Rp 16,11 triliun, tumbuh 5,84 persen.
Rata-rata tingkat utilisasi industri mencapai 66,37 persen sepanjang Januari hingga Oktober 2025.
Baca tanpa iklan