PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif di Akhir 2025
Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Kemenkeu mencatat aktivitas manufaktur Indonesia yang ekspansi selama lima bulan berturut-turut dengan capaian 51,2 di Desember.
- Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.
- Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus 2,66 miliar dolar AS di November 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat aktivitas manufaktur Indonesia yang ekspansi selama lima bulan berturut-turut dengan capaian 51,2 di Desember 2025.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan serta aktivitas pembelian bahan baku.
“Perekonomian Indonesia tetap resilien di penutup tahun 2025, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” kata Febrio dikutip Selasa (6/1/2026).
Febrio menyatakan, optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.
Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif seperti Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7).
"Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia," tutur dia.
Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus 2,66 miliar dolar AS melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif Januari – November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar 38,54 miliar dolar AS naik 9,30 miliar dolar AS (ctc).
Ekspor Januari – November 2025 tercatat sebesar 256,56 miliar dolar AS meningkat 5,61 persen (ctc). Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 persen, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional.
Baca juga: Industri Manufaktur RI Tertekan di Akhir 2025, Kemenperin Ungkap Penyebabnya
Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar 218,02 miliar dolar AS, naik 2,03 persen (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28 persen , sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.
Stabilitas harga di tahun 2025 tetap terjaga tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,92 persen (yoy). Tingkat inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan di tengah tetap menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP).
Baca juga: PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Menperin: Industri Butuh Ekosistem yang Kondusif
Berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif di akhir tahun 2025. Hingga November, Indeks Keyakinan Konsumen menguat ke level 124, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94 persen (yoy) didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.
Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari meningkatnya penjualan listrik sektor bisnis sebesar 6,2 persen (yoy), dengan penjualan listrik rumah tangga dan industri yang tumbuh stabil.
“Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelas Febrio.
Baca tanpa iklan