Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Merosot ke Level Rp 16.877 per Dolar AS

Konflik Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, turut menjadi faktor pelemahan rupiah.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Merosot ke Level Rp 16.877 per Dolar AS
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.877 per dolar Amerika Serikat (AS).
  • Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah juga melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.875 per dolar AS.
  • Konflik Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, turut menjadi faktor.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada Selasa (13/1/2026). 

Berdasarkan Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.877 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rupiah juga melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.875 per dolar AS. 

Baca juga: Banyak Tekanan, Nilai Tukar Rupiah Diramal Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Upaya Intervensi BI Sia-sia

Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, ada sejumlah faktor dari luar dan dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan ini.

Pengamat Ekonomi, mata uang, dan komoditas itu memandang sentimen pasar telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat (AS).

Perkembangan tersebut adalah jaksa yang meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed, Jerome Powell.

Rekomendasi Untuk Anda

"Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS," kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa ini.

Kemudian, konflik Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, turut menjadi faktor.

Adapun demonstrasi tersebut diwarnai kekerasan yang meluas dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran.

Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.

Berikutnya, Donald Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25 persen pada negara mana pun yang "berbisnis" dengan Iran.

Ibrahim menilai hal tersebut sebuah langkah yang bertujuan untuk mengisolasi Teheran secara ekonomi.

Selain itu,Infrastruktur ekspor minyak Rusia telah berulang kali diserang di tengah konflik Ukraina yang berkepanjangan.

Pasukan Ukraina telah menyerang fasilitas minyak dan pusat ekspor Rusia, termasuk terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di dekat Novorossiysk.

Faktor Dalam Negeri

Ia lalu menyinggung keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik penempatan dana di bank sebesar Rp 75 triliun. 

Penarikan tersebut dinilai tidak akan mempengaruhi penyaluran kredit perbankan.

"Penarikan dana tersebut tidak berisiko mengganggu penyaluran kredit perbankan karena kondisi likuiditas saat ini masih berada pada level aman," ujar Ibrahim.

Ia menyebut masih terjaganya likuiditas perbankan terlihat dari masih tingginya nilai kredit yang sudah disetujui tetapi belum dicairkan atau undisbursed loan, yakni sebesar Rp 2.509.400.000.000 atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia per November 2025.

Ia menyebut persoalan utama perbankan saat ini bukan berada di sisi likuiditas atau supply side, melainkan pada lemahnya permintaan kredit atau demand side.

"Hal ini tecermin dari pertumbuhan kredit yang masih lemah meski Purbaya telah menempatkan dana pemerintah dengan total nilai Rp 276 triliun di perbankan sejak September 2025," ucap Ibrahim.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit perbankan hingga November 2025 hanya mencapai 7,74 persen secara tahunan.

Angka tersebut berada di bawah proyeksi BI yang mematok pertumbuhan kredit 8-11 persen sepanjang 2025.

Kondisi tersebut, kata Ibrahim, menunjukkan bahwa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank kurang efektif untuk mendorong peningkatan permintaan kredit, sehingga efeknya ke ekonomi pun tidak signifikan.

Guna mengatasi kondisi tersebut, pemerintah bersama BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut perlu mencari terobosan guna mengerek permintaan kredit.

Ia menyebut salah satunya melalui peningkatan belanja pemerintah agar aktivitas ekonomi bergerak lebih agresif.

Selain itu, stimulus fiskal berupa pengurangan pajak bagi dunia usaha juga dinilai penting agar pelaku usaha lebih bergairah melakukan ekspansi, bukan sekadar bersikap wait and see.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin sebelumnya sempat melemah 30 point di level Rp 16.877 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.855," kata Ibrahim.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.870 - Rp 16.900," lanjutnya. 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas