Kadin Nilai Kelas Menengah Jadi PR Pertumbuhan Ekonomi, Ini Alasannya
Waketum Kadin Aviliani menilai, kelas menengah bawah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Masalah utama justru terletak pada kesenjangan konsumsi. Saat ini konsumsi terbesar masih ditopang oleh kelompok kelas atas dan menengah atas
- Kelompok menengah bawah perlu mendapat perhatian serius terutama dari sektor swasta dan Kadin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aviliani menilai, kelas menengah bawah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal itu dia sampaikan dalam acara Kadin Global and Domestic Economi Outlook 2026 di Menara Kadin, Kamis (15/1/2026).
Baca juga: Menyusutnya Kelas Menengah Jadi Pemicu Penjualan Mobil Nasional Stagnan Selama 10 Tahun
Menurut Aviliani, masalah utama justru terletak pada kesenjangan konsumsi. Saat ini konsumsi terbesar masih ditopang oleh kelompok kelas atas dan menengah atas, mereka menyumbang sekitar 70 persen dari total konsumsi nasional.
"Sedangkan yang sedang punya masalah yaitu menengah bawah yang mereka punya penurunan pendapatan. Itu mereka kontribusinya hanya sebesar 17 persen. Tapi orangnya jumlahnya 75 juta orang gitu," kata Aviliani.
"Nah inilah yang sebenarnya menjadi PR kita bersama di sektor swasta dalam hal ini adalah anggota Kadin," imbuhnya menegaskan.
Aviliani bilang, kelompok menengah bawah perlu mendapat perhatian serius terutama dari sektor swasta dan Kadin. Hal ini dilakukan agar bisa naik kelas melalui peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja.
Sementara itu, kelompok masyarakat bawah sekitar 25 juta orang yang masih menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah dinilai tidak terlalu bermasalah. Meskipun, kontribusinya sekitar 13 persen terhadap konsumsi nasional.
Baca juga: Kemenag Dorong Reformulasi Nishab Agar Lebih Realistis dan Menjangkau Kelas Menengah
"Jadi yang bermasalah itu sebenarnya yang 17 persen tadi. Itu adalah PR yang memang harus mulai menjadi perhatian," ungkap Aviliani.
Di satu sisi, Aviliani menegaskan bahwa sektor swasta memegang peranan sangat besar dalam perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari struktur Produk Domestik Bruto (PDB) di mana kontribusi investasi mencapai 30 persen.
Dia bahkan menyebut, dengan struktur ekonomi saat ini Indonesia bisa tumbuh di kisaran 5 persen hanya dari peran sektor swasta dan masyarakat.
Baca juga: Penjualan Rumah Kelas Menengah Jadi Pendorong Pulihnya Sektor Properti
"Jadi APBN itu yang selalu orang ributkan kontribusi itu hanya sekitar 8,7 persen. Tetapi investasi sekitar 30 persen dari PDB dan untuk konsumsi masih 57 persen. Jadi ini menunjukkan bahwa kenapa Indonesia untuk 5 persen saja," ucap Aviliani.
"Kalau tadi saya diskusi dengan beberapa teman, pemerintah tidur saja 5 persen itu bisa tumbuh Bapak-Ibu. Itu adalah peran daripada sektor swasta dan tentunya adalah masyarakat ya," sambungnya.
Baca tanpa iklan