Delegasi Bisnis Indonesia–Tiongkok Sepakati Pengembangan Rantai Pasok Energi Baru
Delegasi bisnis Indonesia–Tiongkok sepakat bangun rantai pasok energi baru di Indonesia, kolaborasi investasi dan teknologi hijau jadi sorotan.
Penulis:
willy Widianto
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Delegasi bisnis Indonesia–Tiongkok teken kesepakatan energi hijau bersejarah.
- Rantai pasok energi baru digarap, investasi dan teknologi jadi fokus.
- Wenzhou jadi panggung kolaborasi, publik menanti hasil nyata proyek.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Delegasi bisnis Indonesia–Tiongkok mencapai kesepakatan kerja sama dengan Pemerintah Kota Wenzhou, Tiongkok, untuk mendukung pengembangan rantai pasok energi baru di Indonesia.
Pertemuan resmi berlangsung pada 12–14 Januari 2026 di Wenzhou dan dihadiri perwakilan dari PT Global Asia Infrastructure Fund (GIF), GG BEC Global Alliance, serta mitra industri lokal.
Kesepakatan ini ditandatangani dalam pertemuan tiga pihak antara GIF, GGBEC, dan Pemerintah Kota Wenzhou.
Fokusnya membangun ekosistem energi baru yang terintegrasi, mulai dari investasi hingga transfer teknologi.
Delegasi GIF dipimpin oleh Witjaksono, didampingi Muchtar Aziz selaku Direktur Utama GIF, Pan Yongchang sebagai Ketua Eksekutif GGBEC, serta Xu Fang dari PT Global Investment Partner. Mereka diterima langsung oleh Wang Zhenyong, Wakil Wali Kota Wenzhou yang membidangi industri, teknologi, dan energi.
Pertemuan juga dihadiri perwakilan dinas ekonomi, perdagangan, investasi, dan urusan luar negeri Kota Wenzhou. Dokumentasi resmi menunjukkan suasana hangat dan antusiasme dari semua pihak.
Dalam diskusi lanjutan bersama perusahaan lokal, termasuk Tsingshan Group, dibahas rencana konkret membangun rantai pasok energi baru di Indonesia. Kesepakatan ini disebut sebagai langkah “mengubah air laut menjadi kontrak”, yakni merealisasikan komitmen investasi dan teknologi dalam sektor energi hijau.
Witjaksono menekankan pentingnya harmoni budaya sebagai pondasi kolaborasi jangka panjang.
“Sebagai representasi masyarakat Indonesia yang majemuk, kami percaya kolaborasi harus berjalan dengan prinsip selaras dan melebur,” ujar Witjaksono dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).
Baca juga: Profil 2 Orang Dalam BI Saingan Keponakan Prabowo, Thomas Djiwandono, Calon Deputi Gubernur BI
Ia menambahkan, interaksi bisnis perlu menciptakan sinergi budaya agar tidak menimbulkan gesekan sosial. Menurutnya, investasi dan transfer teknologi tidak hanya membawa kemajuan material, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan antarbangsa.
Kesepakatan ini diharapkan memperkuat hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok sekaligus menciptakan model pengembangan industri hijau yang dapat diterapkan secara global. Namun, sejumlah catatan tetap perlu diperhatikan, termasuk kesiapan regulasi energi baru di Indonesia, pengawasan pemerintah terhadap investasi swasta, serta tantangan infrastruktur dalam mendukung rantai pasok.
Dengan konteks tersebut, kesepakatan di Wenzhou menjadi langkah awal yang signifikan, tetapi keberhasilan implementasi akan bergantung pada sinergi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat.