Thomas Tak Ambil Pusing Soal Sentimen Pasar: Saya Buktikan Lewat Kerja
Thomas adalah mantan politikus Partai Gerindra yang menjabat sebagai bendahara umum partai tersebut selama belasan tahun.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Thomas Djiwandono tidak ambil pusing soal sentimen pasar terhadap dirinya yang masuk dalam lingkaran pimpinan Bank Indonesia (BI) setelah dinyatakan lolos fit and proper test di DPR.
- Thomas adalah mantan politikus Partai Gerindra yang menjabat sebagai bendahara umum partai tersebut selama belasan tahun.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru lolos fit and proper test di Komisi XI DPR Thomas Djiwandono tidak ambil pusing soal sentimen pasar terhadap dirinya yang masuk dalam lingkaran pimpinan Bank Indonesia (BI).
Ia memandang para pelaku pasar merupakan orang-orang yang selalu berasumsi. "Sentimen pasar, kita tahu mereka atau pasar ada asumsinya, selalu ada asumsinya,” kata Thomas sesaat sebelum mengikuti fit and properi test di ompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Dia mengakui, persepsi pasar tentang dirinya sedikit kurang baik karena latar belakang dari mana dia berasal.
Thomas adalah mantan politikus Partai Gerindra yang menjabat sebagai bendahara umum partai tersebut selama belasan tahun. Thomas juga keponakan dari Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Presiden RI, Prabowo Subianto.
"Mengenai saya ya asumsinya sedikit kurang baik karena segala macam yang berhubungan dengan latar belakang Dan sebagainya," kata Thomas.
Thomas berharap dengan pernyataan bahwa ia bukan lagi anggota Partai Gerindra sejak 31 Desember 2025 bisa menjadi langkah awal memperbaiki asumsi yang kurang baik tentang dirinya.
Namun, ia sadar masih ada hal lain yang harus dilakukan agar bisa lebih baik lagi, yaitu dengan membuktikan kinerja dia di Bank Indonesia bila terpilih.
Baca juga: Pengamat: Thomas Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI Tak Berdampak Signifikan Terhadap Rupiah
"Saya harus membuktikan. Saya enggak ada cara lain selain membuktikan [melalui] kerja saya. Saya gak bisa hanya ngomong,” ujar Thomas.
Ia menjelaskan bahwa dirinya merupakan seorang profesional dengan pengalaman luas, mulai dari perusahaan multinasional, bisnis keluarga, hingga ranah politik.
Dengan modal tersebut, Thomas percaya telah memiliki pemahaman mengenai beragam budaya kerja yang ada.
“Jadi, meskipun budaya itu berbeda-beda, itu saya anggap sesuatu yang normal dan itu sesuatu yang saya akan hadapi,” ucap Thomas.
Baca tanpa iklan