Pagi Ini Rupiah Menguat 0,12 Persen ke Rp 16.803 Per Dolar AS
Penguatan rupiah Senin kemarin banyak ditopang faktor global, terutama dolar AS yang melemah dan ikut mengangkat mayoritas mata uang Asia.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,12 persen atau Rp 16.803 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/1/2026) pagi.
- Dollar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan setelah naik 0,04 persen hari ini.
- Penguatan rupiah Senin kemarin banyak ditopang faktor global, terutama dolar AS yang melemah dan ikut mengangkat mayoritas mata uang Asia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,12 persen atau Rp 16.803 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp 16.782 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/1/2026) pagi.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang mayoritas berada di zona merah. Won Korea Selatan terdepresiasi setelah turun 0,57 persen, baht Thailand melemah 0,37 persen, peso Filipina turun 0,18 persen.
Kemudian, yen Jepang terkoreksi 0,10 persen, yuan China tergelincir 0,06 persen dan ringgit Malaysia melemah 0,03 persen. Adapun dollar Singapura turun tipis 0,008 persen.
Sementara dollar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan setelah naik 0,04 persen. Penguatan juga terlihat pada dollar Hongkong yang naik 0,004 persen.
Sebelumnya Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, terpilihnya Thomas Djiwandono tidak akan menimbulkan gejolak berarti terhadap nilai tukar rupiah pada Selasa (27/1/2026).
Dampaknya justru cenderung netral hingga sedikit mendukung penguatan rupiah, terutama pada pembukaan perdagangan Selasa pagi.
Menurut Josua, keputusan tersebut memberikan kepastian yang sebelumnya sempat membuat pelaku pasar cemas, khususnya terkait arah kebijakan dan independensi Bank Indonesia (BI).
"Terpilihnya Thomas Djiwandono cenderung berdampak netral hingga sedikit mendukung penguatan, bukan memicu pelemahan besar," ujar Josua saat dihubungi Tribunnews, Senin (26/1/2026).
Baca juga: Pengamat: Thomas Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI Tak Berdampak Signifikan Terhadap Rupiah
Josua menegaskan bahwa penguatan rupiah ke level Rp16.782 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global, terutama pelemahan dolar AS yang mendorong penguatan mayoritas mata uang Asia.
"Penguatan rupiah hari (Senin) ke Rp16.782 per dolar AS lebih besar ditopang faktor global, terutama dolar AS yang melemah dan ikut mengangkat mayoritas mata uang Asia, bahkan sempat mendorong USD/IDR ke sekitar 16.770," tutur dia.
Untuk arah pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan besok, Josua menilai faktor penentu utama tetap berasal dari data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis malam ini, seperti data pesanan barang tahan lama dan indikator aktivitas sektor manufaktur.
Baca juga: Harga Emas di Pegadaian Hari Ini Naik, UBS 1 Gram Tembus Rp 3 Juta
Jika data ekonomi AS dirilis lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi kembali menguat sehingga rupiah bisa dibuka melemah tipis di kisaran Rp16.800–Rp16.850 per dolar AS.
Sebaliknya, jika data AS lebih lemah dan dolar tetap tertekan, rupiah berpeluang bertahan menguat tipis dan menguji level Rp16.700–Rp16.800 per dolar AS.
"Meski begitu, ruang penguatan biasanya tidak lebar karena pasar masih menimbang dua penahan utama, yaitu potensi pelonggaran batas defisit fiskal dan ketidakpastian geopolitik yang bisa membatasi penguatan rupiah berkelanjutan," tegas dia.
Baca tanpa iklan