CIO Danantara Pandu Sjahrir Jengkel IHSG Ambruk: Kami Ingin Pasar Modal yang Lebih Sehat
Danantara menilai pasar saham tidak sehat akibat free float rendah dan dugaan manipulasi.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG ambruk dua hari berturut-turut dipicu isu transparansi dan evaluasi MSCI.
- Danantara menilai pasar saham tidak sehat akibat free float rendah dan dugaan manipulasi.
- Ancaman turun ke frontier market berisiko memicu arus dana asing keluar besar-besaran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengungkapkan kejengkelannya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang dalam selama dua hari ke belakang.
Penurunan ini tak lepas dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengumumkan keputusan untuk terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks.
Pandu mengatakan bahwa isu ini sudah berjalan selama tiga hingga empat bulan terakhir.
Dia sendiri sudah bertemu direksi MSCI untuk membahas soal ini.
Baca juga: IHSG Anjlok Dua Hari, Kepercayaan Pasar Dinilai Kian Rapuh
"Saya sendiri sudah bertemu dengan direksi MSCI. Jadi masukan-masukannya menurut saya sangat clear," kata Pandu dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Hotel The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
MSCI menyebutkan investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham, baik punya Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ini lantaran terdapat masalah terkait struktur kepemilikan yang buram (opacity) dan dugaan manipulasi harga terkoordinasi (coordinated trading behavior).
Secara sederhana, market Indonesia dianggap terlalu banyak "gorengan" dan data free float-nya tidak mencerminkan realita.
Jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan, MSCI pun mengancam akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia dan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
"At the end regulator harus bisa bertindak. Saya lagi baca list frontier market karena kan persiapannya ke frontier market sekarang," ujar Pandu.
"Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Tunisia. Mungkin ini cita-cita dari regulator, saya enggak tahu. Saya serahkan balik kepada regulator karena ini sudah fakta," jelasnya.
Dengan IHSG turun ke frontier market, Pandu memperkirakan aliran dana asing yang keluar bisa mencapai 25-50 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Bagi Danantara, fokus utama mereka adalah investasi, termasuk di pasar publik.
Pandu menyampaikan keinginan agar pasar modal menjadi lebih dalam serta memiliki kualitas yang lebih baik.
"Kami sampaikan secara eksplisit, kami ingin pasar modal yang lebih sehat dan lebih baik," ucap Pandu.
"Kami akan berinvestasi proporsional apabila likuiditasnya nanti menurun," jelasnya.
Pandu menyarankan regulator agar mampu membangun komunikasi yang baik dengan para pemangku kepentingan.
"Jadi balik lagi, you have to be able to have a willingness to listen and react. Jangan melihat ke belakang, melihat ke depan," kata Pandu.
"Mohon maaf ini saya mungkin agak kenceng karena urusan-urusan bahasanya goreng-menggoreng," sambungnya.
Lebih lanjut, Pandu menyerahkan sepenuhnya kepada regulator terkait langkah yang akan diambil.
Menurut dia, informasi yang tersedia sudah memadai dan tidak tepat untuk saling menyalahkan.
“Apa yang dilakukan MSCI sudah pas, tepat. Saya serahkan balik ke regulator," ujar Pandu.
Pada Rabu (28/1/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham.
Tercatat, pada awal perdagangan sesi kedua hari Rabu, IHSG ambruk 8 persen ke posisi 8.261,79 pukul 13:42 WIB.
Pada Kamis pagi ini, BEI kembali memberlakukan trading halt pukul 09.59 WIB setelah IHSG ambles 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.