Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.786 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 31 point dari ke level Rp 16.786 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/1/2026) sore.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor internal dan eksternal
- Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 31 point dari ke level Rp 16.786 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/1/2026) sore.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor internal dan eksternal.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 31 point sebelumnya sempat melemah 45 point dilevel Rp.16.786 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.755," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat.
Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.755 per Dolar AS, Berikut Sentimennya
Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
"Sedangkan untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 16.780- Rp.16.810," ungkapnya.
Dari sisi internal, Ibrahim menilai Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar global di tengah meningkatnya volatilitas keuangan internasional.
Pengelolaan cadangan devisa tersebut dilakukan dengan memperhatikan dinamika suku bunga global, pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), serta imbal hasil obligasi pemerintah AS. Langkah ini dinilai penting untuk meredam dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik.
Baca juga: Rupiah Menguat Sore Ini ke Level Rp 16.722 per Dolar AS karena Donald Trump
"Cadangan devisa kini tidak hanya berfungsi sebagai bantalan krisis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional yang lebih adaptif," ujar dia.
Sedangkan dari sisi eksternal, pasar global masih dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sejumlah laporan menyebutkan Trump berpotensi menominasikan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh. Trump juga mengisyaratkan bahwa Warsh berada di posisi terdepan untuk menggantikan Jerome Powell.
Potensi pencalonannya memicu kekhawatiran pasar terkait independensi The Fed, seiring tekanan berulang Trump agar bank sentral AS memangkas suku bunga secara signifikan.
"Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menekan pasar keuangan global," ungkap dia.
Baca tanpa iklan