Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Perhimpunan Perunggasan Soroti Rantai Distribusi Pemicu Kenaikan Harga Daging Ayam

Stok ayam di tingkat kandang saat ini dinyatakan mencukupi dan tidak ada kekurangan maupun gangguan produksi.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Perhimpunan Perunggasan Soroti Rantai Distribusi Pemicu Kenaikan Harga Daging Ayam
HO/IST
LONJAKAN HARGA DAGING AYAM - Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Singgih Januratmoko. PINSAR menegaskan kondisi di tingkat peternak sebenarnya saat ini tetap stabil dan tidak mengalami kendala produksi ayam pedaging di tengah isu kenaikan harga daging ayam belakangan ini. 
Ringkasan Berita:
  • Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) menegaskan tidak ada gangguan produksi daging ayam di tingkat peternak di tengah isu kenaikan harga daging ayam di pasar tradisional.
  • Stok ayam di tingkat kandang saat ini dinyatakan mencukupi dan tidak ada kekurangan maupun gangguan produksi di tingkat peternak yang bisa memicu kelangkaan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) menyampaikan pandangan terkait isu kenaikan harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Tanah Air. 

Ketua Umum PINSAR Singgih Januratmoko mengatakan, kondisi di tingkat peternak sebenarnya saat ini tetap stabil dan tidak mengalami kendala produksi ayam pedaging.

Singgih menyampaikantiga poin utama untuk meluruskan persepsi masyarakat dan pemangku kepentingan.

Baca juga: Proyek Hilirisasi Peternakan Akan Tambah Produksi Daging Ayam 1,5 Juta Ton

“Pertama, kami menjamin stok ayam di kendang melimpah. Ketersediaan stok ayam di tingkat peternak dalam kondisi yang sangat mencukupi. Produksi berjalan normal dan mampu memenuhi permintaan pasar tanpa adanya gangguan,” ujar Singgih yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR dikutip Jumat, 13 Februari 2026.

Ia menambahkan, stok ayam di tingkat kandang saat ini cukup. Tidak ada kekurangan maupun gangguan produksi di tingkat peternak yang dapat memicu kelangkaan.

Kedua, para peternak patuh pada regulasi Badan Pangan Nasional (BAPANAS). Dengan demikian, para peternak yang bernaung di bawah PINSAR, harga jual di tingkat produsen masih mengacu pada Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 6 Tahun 2024.

Rekomendasi Untuk Anda

"Berdasarkan aturan tersebut, Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp25.000 per kilogram,” jelas Singgih.

Untuk wilayah Pulau Jawa, harga ayam hidup (livebird) ukuran 1,8 kg ke atas saat ini masih berada dalam rentang harga acuan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada lonjakan harga yang signifikan dari sisi hulu atau produksi.

Ketiga, PINSAR menyoroti adanya persoalan pada jalur produksi, yang mengakibatkan keluhan konsumen mengenai mahalnya harga ayam di pasar ritel. PINSAR menilai persoalan utama bukan berada pada peternak, melainkan pada rantai distribusi atau peran perantara (middleman).

"Apabila terjadi kenaikan harga di tingkat konsumen yang melebihi harga acuan, hal tersebut bukan disebabkan oleh kekurangan stok di kandang. Kami melihat adanya potensi persoalan pada mata rantai distribusi yang perlu menjadi perhatian bersama agar tidak merugikan peternak maupun masyarakat," ungkap Singgih.

Ia menegaskan, PINSAR Indonesia komitmen stabilitas pangan. Pihaknya, mengimbau seluruh pihak terkait untuk menjaga transparansi harga dan stabilitas distribusi dari hulu ke hilir.

Upaya ini dinilai krusial untuk melindungi peternak dari kerugian serta menjaga daya beli masyarakat sebagai konsumen akhir.

Selain itu, PINSAR juga menyatakan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan nasional tetap tersedia dengan harga yang sesuai regulasi yang berlaku.(fin)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas