Harga Cabai Rawit Merah Meroket Jelang Imlek dan Ramadan, Tembus Rp 73 Ribu per Kg
Pemerintah mempercepat distribusi dari sentra panen ke pasar utama untuk menekan lonjakan harga dan menjaga stabilitas pasokan.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Data Kementerian Perdagangan menunjukkan harga cabai rawit merah naik 22,52 persen menjadi Rp 73.609 per kg menjelang Ramadan.
- Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional, harga di tingkat konsumen rata-rata Rp 73.339 per kg.
- Pemerintah mempercepat distribusi dari sentra panen ke pasar utama untuk menekan lonjakan harga dan menjaga stabilitas pasokan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga rata-rata aneka cabai secara nasional mengalami kenaikan drastis menjelang bulan puasa atau Ramadan tahun ini.
Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan pada 2-13 Februari menunjukkan harga cabai merah keriting naik 12,32 persen dari Rp 38.414 per kilogram (kg) ke Rp 43.146 per kg.
Lalu, harga cabai rawit merah naik 22,52 persen dari Rp 60.080 per kg ke Rp 73.609 per kg. Kemudian, harga cabai merah besar naik 9,60 persen dari Rp 38.461 per kg ke Rp 42.154 per kg.
Baca juga: Jelang Ramadan 2026: Harga Cabai, Ayam, dan Telur Naik di Depok dan Serang
Sementara itu, data Panel Harga Pangan miliki Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 14 Februari 2026 menunjukkan, harga cabai rawit merah di tingkat produsen secara nasional rata-rata berada pada kisaran Rp 56.383 per kilogram (kg). Lalu, di tingkat konsumen rata-rata nasional tercatat Rp 73.339 per kg.
Kenaikan harga cabai ini membuat Bapanas mengumpulkan para pemangku kepentingan komoditas cabai secara daring pada Minggu (15/2/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri oleh champion petani cabai dari Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Lalu, ada juga dari pedagang cabai di wilayah DKI Jakarta, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta, serta Satgas Pangan Polri.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, cabai adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap pasokan harian.
Oleh karena itu, diperlukan penguatan serta percepatan distribusi cabai dari sentra panen ke pasar utama.
Menurut dia, sentra produksi yang sedang panen harus terhubung cepat dengan pasar-pasar di hilir, utamanya di wilayah konsumen seperti DKI Jakarta agar harga tidak mengalami lonjakan signifikan.
"Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya menunggu setelah Imlek atau beberapa minggu ke depan. Langkah distribusi harus segera dijalankan," kata Ketut dikutip dari siaran pers pada Senin (16/2/2026).
Ia mengatakan, Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dari daerah sentra di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta harus dilakukan.
Dengan begitu, biaya logistik dapat ditekan dan keterjangkauan harga terjaga, sehingga harga cabai dapat dipastikan mengalami tren penurunan.
Menurut Suyono dari Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI), dalam beberapa hari terakhir aktivitas belanja memang meningkat karena bertepatan dengan momentum Imlek dan Puasa.
Namun, pihaknya memprediksi setelah periode Imlek, harga cabai rawit merah akan bergerak turun secara bertahap.
Sejumlah sentra produksi di Jawa Timur seperti Kediri, Blitar, Mojokerto, dan Banyuwangi dalam waktu dekat disebut mulai memasuki masa panen.
Meski demikian, saat ini curah hujan di wilayah tersebut masih cukup tinggi, sehingga berdampak pada proses petik.
Baca tanpa iklan