BI Soroti Ketidakpastian Global Selama Ramadan, Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Harga
Dari sisi fundamental, BI melihat tren perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia masih berlanjut.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Komitmen bank sentral menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional
- Kondisi ekonomi global saat ini yang dinamis dan penuh ketidakpastian
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selama bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), isu stabilitas harga kembali menjadi perhatian.
Setiap tahun, periode ini identik dengan peningkatan permintaan barang dan jasa yang berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan dan transportasi.
Di tengah dinamika tersebut, tantangan global yang kian tidak menentu turut menjadi faktor yang perlu diantisipasi pemerintah.
Baca juga: Penukaran Uang Baru Bank Indonesia: Maksimal Rp 5,3 Juta Per Orang, Ini Syarat dan Caranya
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S Budiman menyampaikan komitmen bank sentral menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Ramadan dan Idul Fitri 2026.
"Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Yang pertama adalah sedikit menceritakan tentang perkembangan perekonomian berdasarkan hasil bacaan kami dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) di bulan Februari kemarin dan juga sedikit tentang perkembangan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional atau HBKN," tutur Aida dalam Talkshow "Menjaga Stabilitas Harga di Bulan Ramadan" di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Kondisi ekonomi global saat ini yang dinamis dan penuh ketidakpastian. Dari sisi fundamental, BI melihat tren perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia masih berlanjut.
Di saat yang sama, ketidakpastian di pasar keuangan global juga meningkat, karena The Fed masih mempertimbangkan kenaikan atau penurunan suku bunganya.
"Sebelumnya kita masih melihat bagaimana Fed Rate itu jadi turun atau tidak, kapan turunnya. Tapi sekarang ditambah lagi dengan kejadian yang baru, yaitu geopolitik atau tensi perang antara US bersama Israel melawan Iran," ungkap Aida.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan harga komoditas global. Meski demikian, Aida menyebut, dalam konteks inflasi, BI terus memantau sejumlah indikator utama melalui tiga jalur transmisi.
Pertama, jalur harga komoditas. BI mencermati perkembangan harga minyak, emas dan pangan. Kenaikan harga minyak, misalnya, berpotensi berdampak pada biaya transportasi dan distribusi yang pada akhirnya memengaruhi harga barang dan jasa.
Baca juga: Pendaftaran Magang Bank Indonesia Jakarta 2026, Ada 10 Unit Kerja yang Dibuka
Kedua, jalur pasar keuangan, terutama pergerakan nilai tukar. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi perhatian utama karena berpengaruh terhadap imported inflation dan sentimen pasar.
Ketiga, jalur volume perdagangan yang dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan dinamika harga di dalam negeri.
"Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Itu saya garis bawahi dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga yang kita diskusikan pada hari ini tentang inflasi," ungkapnya.