Jaga Pertumbuhan Ekonomi di 2026, BI Pakai Strategi 3K
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9-5,7 persen
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Bauran kebijakan BI dirancang untuk menyeimbangkan dua mandat utama, yakni menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus stabilitas harga
- Untuk menjaga stabilitas harga, khususnya dari tekanan eksternal, BI terus mengawal nilai tukar rupiah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9-5,7 persen dengan inflasi terjaga pada 2,5 persen plus minus 1 persen.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman mengatakan, optimisme tersebut ditopang oleh respons kebijakan yang terintegrasi dan kolaboratif.
"Respons kebijakannya 3K. Yang pertama kebijakan yang terintegrasi, kedua dilakukan dengan kolaborasi dan ketiga dilakukan dengan komitmen, jadi bersungguh-sungguh," tutur Aida dalam Talkshow "Menjaga Stabilitas Harga di Bulan Ramadan" di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Optimistis 2026 Ekonomi Tumbuh Hingga 5,7 Persen, BI Andalkan Momentum Belanja Awal Tahun
Aida memaparkan, bauran kebijakan BI dirancang untuk menyeimbangkan dua mandat utama, yakni menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus stabilitas harga.
Kebijakan moneter ditempatkan pada posisi balance antara keduanya, sementara instrumen lain diarahkan lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan.
Selain kebijakan moneter, BI juga mengoptimalkan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, serta penguatan ekonomi dan keuangan inklusif, terutama sektor UMKM.
Seluruh instrumen tersebut dijalankan secara terintegrasi guna memperkuat permintaan domestik di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi kolaborasi, BI menggandeng pemerintah, kementerian dan lembaga, pelaku usaha, hingga media massa. Aida menyebut sedikitnya ada tujuh bentuk sinergi kebijakan yang dijalankan.
Di sektor moneter, BI telah menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 150 basis poin hingga kini berada di level 4,75 persen.
Langkah ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat transmisi kebijakan ke sektor riil maupun pasar keuangan.
Untuk menjaga stabilitas harga, khususnya dari tekanan eksternal, BI terus mengawal nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas, baik di pasar spot maupun instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic NDF (DNDF). Upaya tersebut disertai pendalaman pasar uang guna memperkuat stabilitas sistem keuangan.
Selain itu, BI juga melakukan ekspansi likuiditas moneter sebagai bagian dari dukungan terhadap pertumbuhan. Salah satunya melalui penyesuaian instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna meningkatkan ruang likuiditas di perbankan.
"Kita akan terus ada di pasar melakukan intervensi di spot, di NDF, di DNDF. Itu semua kita akan lakukan termasuk dengan pendalaman pasar keuangan. Yang juga tidak kalah penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi adalah ekspansi likuiditas moneter," jelasnya.