Sesi Pertama Perdagangan Hari Ini, IHSG Anjlok 2,61 Persen ke 7.509
Sentimen negatif dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran volatilitas pasar dan risiko inflasi global.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG turun 2,61 persen atau 201,44 poin ke level 7.509,10 pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat (6/3/2026), dengan 676 saham melemah.
- Sentimen negatif dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran volatilitas pasar dan risiko inflasi global.
- Investor juga menanti rilis data ekonomi penting seperti cadangan devisa Indonesia serta data tenaga kerja dan penjualan ritel dari Amerika Serikat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,61 persen atau 201,44 ke posisi 7.509,10 pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat (6/3/2026)
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (IHSG), sejak dibuka pagi tadi IHSG langsung ke zona merah di level 7.699,47 dari posisi penutupan hari sebelumnya 7.710,54.
Sepanjang perdagangan sesi pertama, IHSG tidak pernah menguat dengan rentang 7.504,35 hingga 7.700,32.
Baca juga: Pasar Saham Dibuka Loyo, IHSG Ambles Lebih dari 1 Persen
Sebanyak 676 saham melemah, 101 saham menguat, dan 181 saham stagnan.
Adapun nilai transaksi setengah hari perdagangan mencapai Rp9,39 triliun dengan melibatkan 17,45 miliar lembar saham.
Imbas Perang di Timur Tengah
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas pasar global.
Ia memperkirakan IHSG bergerak terbatas dengan kecenderungan konsolidasi.
Area support diperkirakan berada di kisaran 7.580 hingga 7.650, sementara resistance berada pada rentang 7.765 hingga 7.825.
Selain itu kondisi kawasan Timur Tengah, pelaku pasar juga menunggu sejumlah rilis data ekonomi penting.
Di dalam negeri, investor akan mencermati data cadangan devisa Indonesia.
Sementara dari Amerika Serikat, pasar menantikan rilis data nonfarm payrolls, penjualan ritel, serta tingkat pengangguran yang dapat memberi petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Hal senada juga disampaikan, Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana mengatakan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah meningkatkan risiko inflasi global dan memperkuat sentimen penghindaran risiko di seluruh pasar keuangan.
Ke depan, de-eskalasi kemungkinan akan membatasi dampak makroekonomi.
“Namun, memburuknya situasi lebih lanjut dapat memperburuk penghindaran risiko, memperkuat volatilitas harga komoditas, meningkatkan tekanan inflasi, dan meningkatkan ketidakstabilan di pasar keuangan global,” ujar Fikri dikutip dari Kontan.
Baca tanpa iklan